Angka cadangan devisa Juni 2026 terlihat mulus di permukaan. Naik ke US$ 145,59 miliar dari US$ 144,89 miliar bulan sebelumnya, selisih sekitar US$ 700 juta. Tapi begitu dibedah komponen per komponennya, ceritanya tidak sesederhana itu.
Satu-satunya yang menguat adalah aset valuta asing, dari US$ 122,87 miliar menjadi US$ 125 miliar. Hampir semua komponen lain justru tergerus. Emas moneter dihajar paling dalam, amblas dari US$ 12,659 miliar ke US$ 11,285 miliar. Special Drawing Rights (SDR) menyusut ke US$ 7,514 miliar, posisi cadangan di IMF turun ke US$ 1,075 miliar, dan aset cadangan lain merosot tipis ke US$ 710 juta.
Jadi kenaikan ini bukan cerminan perbaikan menyeluruh. Ini soal dari mana uangnya datang.
Menurut Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, tambahan cadangan bulan Juni ditopang tiga hal: penerimaan devisa pemerintah, derasnya aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta hasil penerbitan obligasi global Danantara. Arus masuk ke SBN tercatat sekitar US$ 1,26 miliar. SRBI menyedot investasi asing hingga US$ 3,74 miliar. Bukan angka kecil.
Namun kenaikan itu tetap terbatas. "Meski demikian, kenaikan cadangan devisa tetap terbatas karena masih ada pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan intervensi BI di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," kata Josua. Dua beban yang tidak bisa diabaikan.
Soal turunnya emas moneter dan SDR, David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, menilai ini lebih soal valuasi ketimbang pelemahan fundamental. Koreksi harga emas global sepanjang Juni jadi penyebab utama rontoknya komponen emas moneter, sementara SDR menyusut seiring penguatan dolar AS terhadap mata uang penyusunnya seperti euro dan yen. Beda cerita kalau BI betul-betul melepas cadangan emas, tapi itu bukan yang terjadi di sini.
Yang agaknya justru perlu dicermati: kualitasnya. Aset valas adalah komponen paling likuid dari seluruh cadangan devisa, paling mudah dicairkan saat situasi mendesak. Meningkatnya porsi komponen ini memberi ruang gerak lebih besar bagi BI untuk merespons volatilitas, memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri, dan meredam gejolak di pasar keuangan dalam waktu singkat.
Pertanyaannya, seberapa kuat fondasi kenaikan ini?
Josua mengingatkan bahwa cadangan yang terlalu bergantung pada arus modal portofolio jangka pendek seperti pembelian SBN dan SRBI bersifat rentan. Masuk cepat, bisa keluar lebih cepat. Dalam jangka menengah, struktur yang sehat seharusnya lebih banyak ditopang surplus perdagangan, devisa hasil ekspor, investasi langsung, dan penerimaan dari sektor jasa. Itu fondasi yang tidak goyah hanya karena sentimen global berputar arah.