Cabai rawit di Pasar Tradisional Mamuju, Sulawesi Barat, kini dijual Rp 120.000 per kilogram, naik nyaris empat kali lipat dari harga normalnya di kisaran Rp 35.000. Lonjakan ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan merayap naik selama beberapa pekan terakhir dan sudah bertahan di level tersebut sekitar dua pekan.
Jamaluddin, pedagang di pasar itu, menceritakan harga merambat dari Rp 60.000, lalu Rp 80.000, kemudian Rp 100.000, sebelum akhirnya parkir di angka sekarang. Dua faktor sekaligus menekan pasokan dari sisi yang berbeda: kemarau panjang yang merontokkan hasil panen di sentra produksi, dan permintaan besar yang datang dari dapur program Makan Bergizi Gratis. "Penyebab utamanya karena cuaca musim kemarau, jadinya pasokan dari petani berkurang. Ditambah lagi ada permintaan yang cukup tinggi dari dapur MBG, sehingga stok di pasar menjadi sangat terbatas," kata Jamaluddin.
Cabai rawit rupanya bukan satu-satunya yang babak belur. Cabai keriting, yang biasanya beredar di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 45.000 per kg, kini dipatok Rp 80.000. Sayur-mayur ikut terseret. Kol melonjak dua kali lipat menjadi Rp 16.000 dari sebelumnya Rp 8.000, sawi terkerek dari Rp 15.000 ke Rp 20.000, dan buncis yang semula Rp 10.000 hingga Rp 15.000 kini sudah menembus Rp 30.000 per kg. Hampir seluruh meja bumbu dan sayuran di pasar itu bergerak ke atas bersamaan. Masif.
Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) memperlihatkan tekanan serupa pada komoditas pangan strategis nasional, termasuk beras, cabai, dan protein hewani, per Selasa (13/10/2026). Lonjakan di Mamuju agaknya bukan anomali lokal. Ini bagian dari tekanan yang lebih sistemik di sisi pasokan, semacam cermin retak dari rantai produksi pangan yang belum pulih benar dari hantaman musim.
Bagi konsumen, kenaikan kali ini terasa berbeda. Fitri (40), warga yang ditemui sedang berbelanja, terkejut justru karena tidak ada "alasan" yang biasa. Tidak ada lebaran, tidak ada libur panjang. "Biasanya kenaikan harga-harga seperti ini terjadi kalau ada momen hari besar saja. Tapi saat ini terasa berbeda, tidak ada hari raya tapi semua sayuran dan cabai harganya mahal sekali," ujarnya. Ia mengaku terpaksa memutar otak soal anggaran dan mengurangi porsi belanja cabai dan sayur dari rutinitas harian.
Sampai kapan tekanan ini bertahan? Selama musim kemarau belum berakhir dan permintaan dari program pemerintah tetap besar, pedagang seperti Jamaluddin pun tidak bisa menjanjikan kapan harga akan kembali ke titik yang lebih wajar bagi kantong rumah tangga.