SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BYD Racco Tembus 1.000 Pesanan dalam Dua Pekan di...

Bisnis

BYD Racco Tembus 1.000 Pesanan dalam Dua Pekan di Jepang, Indonesia Mulai Harap-Harap Cemas

Dua pekan setelah meluncur di Jepang, BYD Racco sudah mengantongi lebih dari 1.000 pesanan. BYD Indonesia diam-diam mulai posting soal Racco di Instagram, dan sinyal itu tidak bisa diabaikan.

BYD Racco: Mobil Listrik Mungil Laris Jepang, Bakal Masuk Indonesia?

Dua pekan. Hanya dua pekan setelah BYD Racco resmi mengaspal di Jepang pada 28 Juli 2026, mobil listrik mungil bergaya kei car itu sudah membukukan 1.002 pesanan per 9 Agustus 2026, mengutip laporan Nikkei via Carnewschina. Angka yang, jujur saja, cukup mengejutkan bahkan untuk ukuran pasar otomotif Jepang yang memang akrab dengan kendaraan mungil.

Yang lebih menarik dari sekadar jumlahnya adalah komposisi pembelinya. Varian termahal, Racco 300 Premium, mendominasi dengan kontribusi 80 persen dari total pesanan. Racco 300 Plus menyumbang 14 persen, sementara varian entry-level 200 hanya dipilih 6 persen pembeli. Konsumen Jepang rupanya tidak keberatan merogoh kocek lebih dalam demi baterai lebih besar dan fitur lebih lengkap.

Racco ditawarkan dalam kisaran harga 2,14 juta hingga 2,497 juta yen, atau sekitar Rp 230 jutaan hingga Rp 270 jutaan sebelum subsidi. BYD sendiri sudah memasang target ambisius: 10.000 pemesanan hingga akhir 2026. Dengan tren awal ini, target itu agaknya bukan sekadar angka manis untuk siaran pers.

Dari survei internal BYD, 35,7 persen konsumen membeli Racco sebagai kendaraan tambahan. Persentase yang sama juga tercatat pada mereka yang mengganti mobil lama. Sisanya, 26,8 persen, adalah pembeli mobil pertama kali yang langsung menjatuhkan pilihan pada kei car listrik ini. Tiga segmen berbeda, satu model. Bukan sesuatu yang mudah dicapai.

Secara spesifikasi, Racco tidak setengah-setengah untuk kelas yang biasanya diisi kendaraan dengan kemampuan pas-pasan. Bodi kotaknya menyimpan kabin untuk empat penumpang dengan kapasitas bagasi 280 liter, radius putar hanya 4,8 meter, ditambah pintu geser elektrik di kedua sisi yang pada varian 300 Premium sudah hands-free. Motor listriknya menghasilkan 47 kW atau sekitar 63 PS dengan torsi 160 Nm, disuplai dari dua pilihan baterai LFP berkapasitas 22,4 kWh dan 35,84 kWh, dengan jangkauan antara 210 km hingga 320 km. Fitur keselamatan seperti adaptive cruise control dan autonomous emergency braking tersedia standar, begitu pula layar sentuh 10,1 inci dan audio enam speaker.

Di pasar Jepang, Racco berhadapan langsung dengan Nissan Sakura, sang penguasa segmen kei car listrik yang terjual 14.093 unit sepanjang 2025. Sakura dipasarkan mulai 2,448 juta yen dengan baterai 20 kWh dan jarak tempuh standar WLTC hanya 112 km. Dibandingkan Racco yang menawarkan baterai lebih besar dan jangkauan hingga tiga kali lipat, persaingan ini bisa panas. Sakura, boleh jadi, mulai keringat dingin.

35.000 likes. Ribuan komentar. Itulah yang terjadi ketika akun Instagram resmi @BYD_Indonesia mengunggah tiga postingan beruntun soal Racco, mulai dari perkenalan karakter mobil, pilihan warna, hingga spesifikasi lengkap. Warganet sudah ramai menyimpulkan ini sinyal peluncuran di Indonesia, entah kebetulan atau tidak.

Luther T. Panjaitan, Head of Marketing Communication PT BYD Motor Indonesia, memang tidak menampik kemungkinan itu. "Memang Racco antusiasmenya cukup tinggi, khususnya kita baru launching di Jepang. Karena itu produk made in BYD langsung, sangat possible untuk dibawa ke Indonesia," ujarnya. Tapi Luther juga realistis. "Kita harus mempelajari market-nya. Karena seperti kita tahu di Indonesia belum ada market kei car, jadi kita perlu ada studi yang mendalam," tambahnya.

Kalau Racco benar-benar masuk, ia akan berhadapan dengan Wuling Aira EV yang lebih dulu bermain di segmen serupa. Di atas kertas, Racco unggul di hampir semua lini teknis: tenaga motor 57 persen lebih besar, torsi nyaris dua kali lipat, kapasitas baterai lebih besar, kabin lebih tinggi dan luas berkat konsep super-tall EV. Aira EV mungkin hanya bisa mengandalkan harga dan kesederhanaan sebagai senjata terakhir. Pertanyaannya, apakah itu cukup?

411.072 unit. Angka penjualan global BYD pada Juli 2026, naik 20,5 persen year-on-year. Dari jumlah itu, 179.841 unit adalah ekspor, atau 43,7 persen dari total penjualan global. Khusus di Jepang, BYD menyerap 383 unit sepanjang Juli, dan Racco hadir untuk mendorong angka itu jauh lebih tinggi.

Seberapa dalam kajian pasar yang dibutuhkan BYD Indonesia sebelum berani menekan tombol launch? Pasar yang menunggu jawaban itu agaknya tidak mau bersabar terlalu lama.