SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bursa China Rebound, tapi Teknologi Masih Dibuang

Finansial

Bursa China Rebound, tapi Teknologi Masih Dibuang

Pasar saham China bangkit pada Senin (20/7) setelah aksi jual masif berbasis margin pekan lalu memicu kejatuhan lebih dari 5%. Dana pelat merah menggelontorkan 60 miliar yuan untuk menopang pasar.

Bursa China Ditutup Rebound Senin (20/7), Setelah Aksi Stabilitas Pemerintah

Sepanjang pekan lalu, bursa China dihajar gelombang deleveraging yang kecepatan dan skalanya belum pernah terjadi sejak era krisis 2015-2016. Senin (20/7), pasar akhirnya bangkit, tapi dengan catatan penting yang tidak boleh diabaikan investor.

Data Bloomberg menunjukkan nilai pinjaman margin di bursa Shanghai dan Shenzhen amblas 2,8% menjadi 2,75 triliun yuan, setara sekitar US$405 miliar, hanya dalam sehari perdagangan Jumat (18/7). Total penyusutan margin financing sepanjang pekan menembus 160 miliar yuan. Angka yang cukup besar untuk membuat pelaku pasar menghela napas panjang.

Pemicunya bukan sentimen makro semata. Saham-saham produsen cip memori yang sepanjang tahun ini menjadi juara rally berbasis narasi AI mulai kehilangan daya angkat. Ketika sektor ini terkoreksi tajam, efek domino pun bergulir: investor yang bermain dengan dana pinjaman terpaksa melikuidasi posisi di aset lain untuk menutup margin call. Aksi jual paksa inilah yang memperluas tekanan ke seluruh segmen pasar, dari teknologi hingga emiten kecil di STAR Market.

Pada puncak tekanan Jumat lalu, Indeks Star 50 rontok lebih dari 7%. CSI 300 melemah 3,6%. Indeks STAR Composite menyentuh level terendah dalam hampir tiga bulan, dan bahkan ketika pasar sudah mulai pulih Senin, indeks ini masih tergerus 2,3%. Saham berkapitalisasi kecil di STAR Market lebih parah, amblas lebih dari 6%. Adapun indeks semikonduktor yang melacak perusahaan material dan peralatan chip mencatat penurunan tujuh sesi berturut-turut, dengan koreksi 7% di hari terakhir saja.

Pasar mulai merespons lebih tenang setelah Ketua China Securities Regulatory Commission (CSRC) Wu Qing turun langsung menggelar pertemuan dengan pelaku industri di Beijing. Regulator berjanji mengerahkan segala instrumen untuk menjaga stabilitas. Sinyal yang pasar butuhkan, setidaknya untuk jangka pendek.

Dukungan lebih konkret datang dari BUMN. Dua perusahaan milik negara mengungkapkan telah menggelontorkan sekitar 60 miliar yuan untuk membeli saham domestik dalam beberapa hari terakhir. Aluminum Corp of China, CRRC Corp, dan SDIC Power juga mengumumkan bahwa induk usaha mereka akan menambah kepemilikan saham. Pola klasik yang biasa dibaca pasar sebagai sinyal backstop negara.

Hasilnya: CSI 300 naik 1,5%, Shanghai Composite menguat 0,9%, Hang Seng di Hong Kong melesat 2,4%.

Tapi yang justru mencolok ada di balik angka-angka itu. Rebound ini bukan rally yang merata. Sektor-sektor tradisional, konsumer, properti, utilitas, yang sepanjang tahun tertinggal jauh dari saham teknologi malah jadi penopang utama. Sebaliknya, investor aktif memanfaatkan kenaikan itu untuk keluar dari posisi teknologi. "Setiap sektor yang terlalu padat investor menghadapi risiko volatilitas yang sangat tinggi," ujar Wang Zhuo, mitra di Shanghai Zhuozhu Investment. Ketika momentum kenaikan saham AI dan chip mulai goyah, kata Wang, dana akan bermigrasi ke aset yang menawarkan kepastian arus kas, bukan sekadar narasi pertumbuhan.

Tanda-tanda euforia yang mereda juga terlihat dari IPO CXMT Corp senilai US$8,6 miliar. Penawaran saham perdana produsen chip ini mendapat minat institusi yang lebih dingin dibanding IPO besar lainnya di China tahun ini. Entah kebetulan atau tidak, momentum IPO raksasa ini bertepatan persis dengan puncak tekanan deleveraging pekan lalu.

Bagi investor yang punya eksposur ke saham teknologi dan semikonduktor China, pertanyaannya sekarang sederhana: apakah Senin kemarin awal dari pemulihan sejati, atau sekadar dead cat bounce yang ditopang intervensi negara?