KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Bulog Kirim 1.000 Ton Beras Premium ke Malaysia, P...

Bisnis

Bulog Kirim 1.000 Ton Beras Premium ke Malaysia, Pintu Masuk Pasar Senilai Rp 3,39 Triliun

Perum Bulog menandatangani MoU ekspor beras premium dengan Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd dari Malaysia, membuka peluang perdagangan hingga 200.000 ton senilai Rp 3,39 triliun per tahun.

Beras Indonesia Diekspor ke Malaysia, Nilainya Capai Rp 3,39 Triliun

Stok 5,2 juta ton di gudang Bulog ternyata bukan sekadar angka ketahanan pangan. Perum Bulog akhirnya resmi menandatangani MoU dengan Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd asal Malaysia, menandai pengiriman perdana 1.000 ton beras premium melalui jalur perbatasan Entikong, Kalimantan Barat.

Angka 1.000 ton itu memang kecil, dan tidak ada yang menyangkal itu. Sarawak saja butuh sekitar 200.000 ton per tahun, sementara kebutuhan Malaysia secara nasional berkisar 1,5 juta hingga 1,7 juta ton. General Manager Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd, Jumaat bin Ibrahim, terang-terangan menyebut pengiriman ini lebih berfungsi sebagai promosi. "Sebanyak 1.000 ton sebagai langkah kita untuk mempromosikan beras-beras Indonesia ke Sarawak khususnya dan Malaysia pada umumnya," katanya. Jalur Entikong dipilih bukan semata soal efisiensi logistik, melainkan lebih karena nilai simboliknya: dua wilayah bertetangga yang berbagi perbatasan darat.

Harga yang disepakati berada di kisaran 3,9 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 17.000 per kilogram, kategori premium kadar broken lima persen. Kalau volume perdagangan benar-benar ditingkatkan sampai 200.000 ton sesuai kebutuhan Sarawak, nilai transaksinya diperkirakan menyentuh Rp 3,39 triliun. Bukan angka yang bisa dianggap enteng.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terlihat antusias, agaknya memang ada alasannya. Selain stok Bulog 5,2 juta ton, Amran menyebut total cadangan beras nasional secara agregat bisa mencapai 26 juta ton bila diperhitungkan dari berbagai sumber: 10 juta ton masih berupa standing crop yang belum dipanen, 10 juta ton tersebar di sektor hotel, restoran, dan katering, plus 5,2 juta ton yang parkir di gudang Bulog. Kebutuhan konsumsi domestik hanya sekitar 2,6 juta ton per bulan. Artinya, stok nasional secara teoritis cukup hingga 2027 atau lebih. "Kita sudah swasembada beras, stok kita 5,2 juta ton sampai dengan hari ini. Bahkan kita sudah sewa gudang, 2 juta ton kita surplus," tegas Amran, Sabtu (25/8/2026).

Amran juga mengklaim telah berbicara langsung dengan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Mohamad Sabu, yang disebutnya siap mempercepat dan memperbesar volume impor dari Indonesia. Setidaknya itu klaim manajemen di lapangan, mengingat Malaysia juga memasok kebutuhan berasnya dari Thailand dan Vietnam, dua eksportir yang sudah lama menancapkan kaki di sana.

Dari sisi Bulog, Direktur Utama Ahmad Rizal Ramdhani menyebut MoU ini bagian dari transformasi perusahaan memperkuat bisnis komersial di luar mandat ketahanan pangan. "Prioritas Bulog tetap menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, ketika stok kuat dan kebutuhan dalam negeri aman, kita memiliki kesempatan untuk mengembangkan bisnis komersial, termasuk ekspor beras premium," jelas Rizal. Penandatanganan yang disandingkan dengan perayaan HUT ke-81 RI ini jelas bukan kebetulan, dirancang sadar sebagai narasi simbolik: dari negara pengimpor beras, Indonesia mulai melangkah sebagai eksportir.

Satu variabel yang patut dicermati adalah El Nino. Pemerintah sendiri mengakui ada pertimbangan soal musim panas ekstrem dalam menetapkan batas volume ekspor tahap awal. Target Amran mengekspor hingga 1 juta ton ke Malaysia masih dalam tahap kajian, bukan komitmen terkunci. Realisasi volume selanjutnya akan sangat bergantung pada kondisi panen nasional di semester kedua 2026. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa dijaga sebelum Thailand atau Vietnam bergerak lebih cepat?