KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Bulog Ekspor 1.000 Ton Beras Premium ke Malaysia,...

Bisnis

Bulog Ekspor 1.000 Ton Beras Premium ke Malaysia, Incar Kuota 200.000 Ton per Tahun

Perum Bulog menandatangani MoU dengan Padi dan Beras Borneo Sdn. Bhd. untuk pengiriman perdana 1.000 metrik ton beras premium ke Malaysia, dengan nilai ekspor mencapai Rp 3,39 triliun dan target kuota tahunan hingga 200.000 ton.

Indonesia siap ekspor 1.000 ton beras premium ke Malaysia

Cadangan beras pemerintah kini mencapai 5,2 juta metrik ton, dan sebagian dari surplus itu akhirnya akan melewati perbatasan. Perum Bulog menandatangani nota kesepahaman dengan Padi dan Beras Borneo Sdn. Bhd. di Jakarta untuk pengiriman perdana 1.000 metrik ton beras premium ke Malaysia, disaksikan langsung Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ini bukan sekadar transaksi dagang biasa. Pengiriman perdana 1.000 ton itu dirancang sebagai pintu masuk, dengan proyeksi ekspansi bertahap yang menargetkan kuota tahunan hingga 200.000 ton. Ambisius. Dan masih perlu dibuktikan oleh realisasi pengiriman berikutnya.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut momen ini punya makna ganda: bukti nyata daya saing beras Indonesia di pasar regional sekaligus bentuk apresiasi atas kerja keras petani lokal menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Soal jadwal pengiriman berikutnya, ia tak merinci.

Sepanjang beberapa tahun terakhir, Indonesia lebih dikenal sebagai importir beras ketimbang pemasok. Lonjakan produksi nasional yang mendorong stok pemerintah ke level tertinggi kini membuka ruang bagi Bulog untuk agresif melirik pasar luar negeri. Malaysia dipilih sebagai pasar perdana, agaknya karena kedekatan geografis dan jaringan distribusi yang sudah bisa dimanfaatkan. Entah kebetulan atau tidak, pilihan ini juga minim risiko reputasi kalau pengiriman pertama berjalan mulus.

Pemerintah memastikan ekspor ini tidak bakal menggerus pasokan domestik. Masuk akal, mengingat cadangan 5,2 juta metrik ton itu angka yang tidak main-main. Prioritas tetap pada stabilitas harga pangan lokal dan kesejahteraan petani nasional.

Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan? Kalau kuota 200.000 ton per tahun itu benar-benar terealisasi, devisa yang masuk lumayan, dan nama Indonesia sebagai pemasok beras di ASEAN mulai terbentuk kembali setelah lama absen dari posisi itu.