Tahap pertama sudah beres, tahap kedua tinggal menunggu Agustus.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) merampungkan akuisisi portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai total Rp 19,93 triliun, sebuah transaksi yang sekaligus mendatangkan 344.600 nasabah baru ke dalam ekosistem BTN.
Akuisisi ini dikerjakan dalam dua gelombang. Tahap pertama, senilai Rp 12,58 triliun, rampung per 29 Juni 2026 lewat skema Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA): BTN mengambil alih portofolio pinjaman pensiunan dan pra-pensiunan yang manfaatnya dikelola PT Taspen (Persero). Tahap kedua, sekitar Rp 7,3 triliun, dijadwalkan kelar awal Agustus melalui Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA), dengan cakupan lebih luas, pensiunan Asabri, dana pensiun lain, hingga kredit karyawan aktif BUMN dan lembaga pemerintahan. Kedua perjanjian itu sendiri sudah diteken jauh-jauh hari, tepatnya 22 Mei 2026.
Soal kualitas aset, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seluruh portofolio berstatus performing loan, bukan kredit bermasalah yang diobral murah. BBTN tidak sedang main judi volume, mereka membeli buku kredit yang bersih, dengan profil imbal hasil yang, menurut manajemen, melampaui rata-rata portofolio perumahan mereka.
Rp 19,93 triliun. Angka yang tidak main-main.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyebut 344.600 nasabah baru itu bukan sekadar entri di laporan tahunan. Mereka adalah calon pengguna aplikasi Bale by BTN, calon nasabah payroll, calon deposan. "Akuisisi ini akan memperluas basis nasabah BTN menjadi 344.600 nasabah baru join ke BTN," ujar Nixon saat paparan kinerja di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Ia juga memastikan bahwa langkah anorganik ini tidak berarti BBTN memunggungi bisnis intinya. "Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang," tuturnya.
Satu lompatan anorganik yang langsung mendongkrak portofolio kredit non-perumahan BBTN. Manajemen membidik segmen non-perumahan hingga 30 persen dari total portofolio kredit dalam lima tahun, naik bertahap dari komposisi kini yang masih dikuasai KPR.
Bagi pemegang BBTN, pertanyaannya sederhana: kapan ini terasa di angka? Dengan tahap kedua masih berproses dan integrasi ratusan ribu nasabah baru yang butuh waktu, hasilnya agaknya baru terasa penuh di laporan 2027. Tapi arahnya, kalau data ini bisa dipercaya, sudah terbaca jelas.