SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Syariah  ›  BSN Palu Bidik Pasar Syariah Sulteng, dari Propert...

Syariah

BSN Palu Bidik Pasar Syariah Sulteng, dari Properti hingga Emas

Bank Syariah Nasional (BSN) Palu mulai agresif memetakan potensi keuangan syariah di Sulawesi Tengah, dengan layanan yang merentang dari KPR hingga cicilan emas dan ekosistem haji-umrah.

Rp 71 triliun. Total aset yang membuat Bank Syariah Nasional (BSN) duduk sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia, eh, tunggu, em dash dilarang, bank syariah terbesar kedua di Indonesia. Entitas ini baru resmi beroperasi 22 Desember 2025, lahir dari spin-off Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN). Di Palu, mesin bisnisnya mulai panas.

Jumat (10/4/2026), manajemen BSN Palu duduk bareng sejumlah media lokal di Pin Point Kafe, Palu. Branch Manager BSN Palu, Wahyu Ardimas, hadir bersama Deputy Branch Manager Supporting, Wahid Fachrul Hafidz. Agenda silaturahim, tapi bukan yang basa-basi. Wahyu datang dengan peta yang cukup jelas: membaca potensi ekonomi daerah, sekaligus memperkenalkan ekosistem layanan syariah yang sudah berjalan.

Properti perumahan jadi fokus utama. Wajar, mengingat DNA-nya memang dari BTN Syariah. Tapi Wahyu menegaskan ruang geraknya tidak sesempit itu. "Secara bisnis Bank Nasional Syariah ini memang berfokus di bidang properti perumahan sejalan dengan latar belakang kami dari BTN Syariah. Namun demikian, kami juga terbuka untuk mengembangkan potensi di sektor lain, tentunya dengan tetap berdasarkan prinsip syariah serta menyesuaikan dengan kondisi daerah," katanya.

Ekosistem haji dan umrah masuk dalam daftar layanan yang digarap. Di Sulawesi Tengah, ceruk ini punya bobot sendiri, kalangan masyarakat yang antusias beribadah tapi selama ini kurang terlayani perbankan konvensional. Agaknya segmen inilah yang paling menjanjikan untuk didekati lebih dulu.

BSN juga menawarkan cicilan kepemilikan emas berbasis syariah. Sederhana di permukaan, tapi justru itu daya tariknya. Bagi masyarakat yang belum akrab dengan pasar modal, emas adalah instrumen yang familiar, dan skema syariah memastikan transaksinya bersih dari unsur riba. Bukan investasi eksotis. Tapi efektif.

Semua layanan ini bisa diakses lewat aplikasi Bale Syariah, mulai cek saldo, transfer, sampai pembayaran kebutuhan harian secara digital. Infrastruktur yang, kalau data ini bisa dipercaya sebagai indikator, bakal jadi pembeda serius di pasar Sulteng yang persaingan antar bank syariahnya kian ramai.

Soal kondisi makro daerah, Wahyu cukup gamblang. Pertambangan masih jadi penopang utama pertumbuhan Sulteng, itu bukan berita baru. Yang ia tekankan: ekonomi ekstraktif saja tidak cukup. UMKM perlu diperkuat, jika daerah ini serius ingin tumbuh secara merata dan bukan sekadar mengkilap di satu sektor. BSN menyatakan dukungan terhadap program pembiayaan UMKM dari pemerintah, dengan catatan tetap mengikuti kebijakan dan regulasi yang berlaku.

Perlu diingat, BSN bukan warisan lama yang tinggal ganti papan nama. Ia tumbuh dari transformasi Bank Victoria Syariah pasca-akuisisi, kini beroperasi di bawah naungan Danantara Indonesia. Umurnya baru hitungan bulan, tapi modalnya, Rp 71 triliun aset, tidak bisa dianggap enteng.

Pertanyaannya sekarang: seberapa cepat BSN bisa mengonversi potensi Sulteng menjadi portofolio pembiayaan yang nyata? Pasar sudah ada. Produknya juga. Yang belum terbukti adalah kecepatannya.