SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Syariah  ›  BSI Kucurkan Rp1,65 Triliun KUR Syariah ke 11 Ribu...

Syariah

BSI Kucurkan Rp1,65 Triliun KUR Syariah ke 11 Ribu UMKM, Baru Februari 2026

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) membuka 2026 dengan agresif, menyalurkan KUR Syariah senilai Rp1,65 triliun kepada lebih dari 11 ribu pelaku UMKM hanya dalam hitungan bulan pertama tahun ini.

Rp1,65 triliun. Bukan angka tutup buku akhir tahun.

Per Februari 2026 saja, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sudah mengucurkan Kredit Usaha Rakyat berbasis syariah kepada lebih dari 11 ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Sektor yang disasar bukan sembarang pilihan: perdagangan, pertanian, dan industri pengolahan, tiga tulang punggung ekonomi domestik yang kerap kekurangan akses pembiayaan formal.

Yang membedakan skema ini dari KUR konvensional adalah strukturnya. Tanpa bunga. BSI menggunakan akad murabahah untuk transaksi jual beli dan ijarah untuk skema sewa, memastikan setiap rupiah yang keluar tetap berjalan di atas rel syariat. Bagi sebagian nasabah UMKM yang selama ini segan masuk ke perbankan karena alasan prinsip, ini agaknya jadi pembeda yang cukup konkret, bukan sekadar klaim brosur.

Akselerasi di awal tahun bukan kebetulan. BSI tampaknya ingin mengunci momentum sebelum persaingan pembiayaan UMKM makin sengit, sekaligus menjawab tekanan pemerintah agar KUR syariah tidak cuma jadi instrumen pelengkap statistik inklusi keuangan nasional. Strategi familiar, tapi efektif kalau eksekusinya rapi.

Dari sisi operasional, proses pengajuan hingga pencairan sudah terintegrasi secara digital. Prosedur yang dulu makan waktu berhari-hari kini dipangkas. BSI juga terus mengembangkan ekosistem digitalnya, tidak hanya untuk urusan pembiayaan, tapi juga membantu nasabah dalam transaksi dan pengelolaan keuangan harian. Semacam satu atap untuk kebutuhan finansial pelaku usaha kecil. Efisien di atas kertas, setidaknya begitu gambarannya.

Soal risiko, manajemen BRIS menegaskan kehati-hatian tetap jadi prioritas. Pemantauan kualitas pembiayaan dan pendampingan berkelanjutan kepada nasabah disebut sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan aset. Setidaknya itu klaim manajemen.

Pertanyaannya, berapa lama kualitas itu bisa dipertahankan seiring volume yang terus didorong naik? Angka penyaluran yang jumbo memang memoles laporan keuangan dengan apik. Tapi NPF yang merayap naik di kuartal berikutnya bisa dengan cepat membalikkan sentimen pasar terhadap BRIS, dan itu skenario yang sudah berulang kali terjadi dalam siklus ekspansi kredit perbankan. Pola klasik. Belum tentu kali ini berbeda.