SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Syariah  ›  BSI dan BCA Syariah Pimpin Lonjakan Investasi Emas...

Syariah

BSI dan BCA Syariah Pimpin Lonjakan Investasi Emas Syariah di Kuartal Pertama 2026

Dana investasi emas di bank syariah melesat 15% pada kuartal pertama 2026, didorong ketidakpastian ekonomi global dan agresivitas layanan digital perbankan syariah.

Harga emas Logam Mulia menyentuh Rp2.922.000 per gram pada awal April 2026. Naik Rp20.000 dari sebelumnya. Bagi sebagian orang itu angka biasa, tapi bagi perbankan syariah, tren ini adalah bahan bakar.

Dana investasi emas di bank syariah tumbuh 15% sepanjang kuartal pertama 2026. Bukan pertumbuhan yang kebetulan, karena ada kombinasi yang agaknya jarang terjadi bersamaan: gejolak ekonomi global, penetrasi digital yang makin dalam, dan nasabah yang semakin teredukasi soal instrumen lindung nilai.

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) membukukan pertumbuhan pembiayaan emas cicilan 17,68% secara tahunan per Februari 2026. Gadai emas lebih agresif lagi, tumbuh 19,96%. Pasokan yang dikelola BSI sudah mencapai 22,5 ton. Tapi angka paling mencolok justru datang dari sisi basis nasabah: Wisnu Sunandar, Corporate Secretary BSI, menyebut jumlah nasabah emas BSI melonjak lebih dari 400% dalam periode yang sama. Empat ratus persen. Bukan main.

BCA Syariah tidak mau kalah. Pembiayaan emas mereka mencapai Rp791 miliar per Maret 2026, naik 253% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sebagaimana disampaikan Pranata selaku Direktur BCA Syariah. Platform digital "Bsya" disebut sebagai salah satu pengungkit utama, memungkinkan nasabah mengakses produk emas cicilan tanpa perlu antre di kantor cabang.

Lalu kenapa sekarang? Kenapa lonjakan ini terjadi justru ketika harga emas bergerak liar?

Jawabannya, ironisnya, adalah volatilitas itu sendiri. Ketika pasar saham tidak bisa dipegang dan nilai tukar merespons setiap sentimen geopolitik, emas kembali menjadi tempat pelarian yang familiar. Bank syariah menawarkan pintu masuk yang lebih terjangkau dibanding membeli emas fisik sekaligus, lewat skema murabahah dan gadai berbasis akad yang transparan.

Secara teknis, skema yang paling umum berjalan di dua jalur. Pertama, pembiayaan cicilan: bank membeli emas atas nama nasabah, lalu menjualnya kembali dengan margin yang sudah disepakati di awal. Kedua, gadai emas bagi mereka yang sudah punya logam mulia dan butuh likuiditas cepat. Keduanya dijalankan tanpa bunga mengambang yang bisa berubah sewaktu-waktu. Fleksibilitas tenor, kemudahan akses digital, dan likuiditas yang relatif tinggi menjadi nilai jual yang sulit ditolak, khususnya bagi segmen nasabah muda yang baru berkenalan dengan instrumen investasi.

Satu hal patut dicermati: pertumbuhan 253% milik BCA Syariah itu terdengar ekstrem untuk lini bisnis yang sudah berjalan. Angka seperti ini bisa jadi cerminan base effect dari tahun sebelumnya yang memang rendah, atau memang ada akselerasi nyata di 2026. Kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, jawabannya baru akan jelas ketika laporan keuangan kuartal penuh dirilis.

Yang pasti, total aset keuangan syariah nasional sudah menembus Rp3.131 triliun, tumbuh 8,61% tahun ini. Segmen emas syariah bukan lagi ceruk kecil. Investor ritel yang selama ini menyimpan emas di laci lemari bisa mulai mempertimbangkan apakah skema ini lebih masuk akal untuk portofolio mereka.