Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-82, 13 Mei 2026, pasar modal menyuguhkan hadiah yang sifatnya campur aduk untuk Prajogo Pangestu.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melonjak 14,86% ke Rp 2.280 per lembar pada penutupan perdagangan Selasa (12/5). Lonjakan itu bukan tanpa sebab: BRPT menjadi satu-satunya entitas Grup Barito yang selamat dari proses rebalancing MSCI Global Standard Indexes periode Mei 2026. Volume perdagangan mencerminkan animo yang tak biasa. Sebanyak 678,95 juta saham berpindah tangan dalam 96.822 kali transaksi, nilai totalnya menyentuh Rp 1,46 triliun. Investor asing tercatat net buy Rp 34,55 miliar.
Tapi di balik angka itu, ada tepuk tangan di satu tangan.
Tiga emiten afiliasi, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), resmi dicoret dari indeks tersebut. Mereka tidak sendirian. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga terpental, bersama PT Sumber Alfaria Tjiraya Tbk (AMRT) yang dialihkan ke MSCI Small Cap Index. Enam emiten Indonesia keluar dari indeks utama sekaligus.
Respons pasar keras. Harga saham-saham terdampak sudah terpangkas antara 49% hingga 70% dari puncaknya. Belum selesai, agaknya. Implementasi perubahan indeks baru dijadwalkan berlaku efektif pada penutupan 29 Mei 2026, artinya tekanan forced selling dari manajer investasi global yang wajib menyesuaikan portofolio masih akan terasa beberapa pekan lagi.
Apa yang bikin MSCI berubah sikap? Evaluasi terbaru lembaga itu tidak lagi semata soal kapitalisasi pasar. Likuiditas riil dan distribusi kepemilikan saham kini masuk sebagai parameter kritis. Saham-saham Grup Barito selama ini dikenal punya konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi, pola yang mendongkrak valuasi secara agresif dengan jumlah saham beredar yang relatif terbatas. Efektif menarik dana asing ketika indeks global masih permisif. Kini sinyalnya berbeda: pasar yang sehat bagi investor institusional butuh kedalaman, bukan sekadar market cap besar di atas kertas.
Dampaknya langsung ke kantong. Dari puncak sekitar US$ 43,5 miliar pada Oktober 2025, kekayaan Prajogo sudah tergerus ke US$ 28,6 miliar pada Maret 2026. Seiring tekanan lanjutan pasca pengumuman MSCI, angka itu diperkirakan menyusut ke kisaran US$ 19 miliar, setara Rp 332,59 triliun.
Bukan main.
Untuk BRPT, Phintraco Sekuritas merekomendasikan trading buy dengan target harga Rp 2.400, area sell on strength di Rp 2.480, dan stoploss di bawah Rp 2.000. Saham ini dinilai tengah dalam fase konsolidasi setelah tertekan sepanjang 6 hingga 11 Mei.
Pertanyaannya: apakah bertahannya BRPT di MSCI cukup jadi penopang sentimen Grup Barito, sementara tiga saudaranya masih menunggu guncangan rebalancing akhir bulan?