Dua agenda besar BRI yang berlangsung hampir bersamaan di dua ujung Nusantara ini punya benang merah yang sama: perbankan pelat merah itu sedang serius menggarap ekonomi desa, dan ini jauh dari sekadar formalitas CSR.
Di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masuk lewat jalur budaya. Desa penyimpan warisan megalitik dan tradisi lompat batu ini diproyeksikan sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis pariwisata, dengan UMKM sebagai tulang punggungnya. Kerajinan tangan khas, kuliner lokal, jasa pemandu wisata, hingga penginapan warga, semuanya masuk radar program inkubasi BRI di kawasan cagar budaya itu.
Agenda lainnya berlangsung di Sofifi. BRI memilih momen HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai panggung, berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk menggelar Semarak Merah Putih Kemerdekaan pada 22 Agustus 2026. Sofifi adalah satu dari 18 titik serentak yang diaktifkan BRI di seluruh Indonesia. Bazar UMKM, olahraga bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, sampai penggalangan donasi bagi korban bencana di NTT, semuanya hadir dalam satu paket.
Yusnita, pemilik usaha Ikan Kering Sondo-Sondo, merasakan sendiri efeknya. "Adanya Semarak Merah Putih ini sangat membantu menambah omzet para pelaku UMKM di Maluku Utara, khususnya Sofifi," katanya. Bukan angka fantastis, memang. Tapi bagi pelaku usaha mikro di daerah, lonjakan kunjungan seperti ini bisa berarti perbedaan antara bulan yang berat dan bulan yang cukup.
RCEO BRI Region 1 Medan, Novian Supriatno, menegaskan bahwa arah gerak ini bukan program sosial musiman. "Indonesia tidak akan tumbuh kuat jika pembangunan hanya terkonsentrasi di kota. Pertumbuhan harus dirasakan hingga desa," ujar Novian. Di Bawomataluo, pendekatannya mengikuti empat pilar Desa BRILiaN: penguatan BUMDes, digitalisasi, inovasi usaha, dan keberlanjutan lingkungan. Empat pilar yang terdengar baku di atas kertas, tapi cukup konkret kalau melihat apa yang sedang dibangun di lapangan.
Pemerintah daerah di kedua lokasi kompak merespons positif. Sekda Nias Selatan Amsarno Satriawan Sarumaha menyebut kehadiran BRI bukan sekadar seremonial, melainkan upaya bersama memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkenalkan Bawomataluo ke khalayak yang lebih luas. Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe senada. Kegiatan semacam ini, katanya, jadi ruang kolaborasi riil untuk mendorong ekonomi kerakyatan. Dua kepala daerah, satu nada.
5.703 desa. Angka yang tidak kecil. Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa hingga Juni 2026, sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, BRI telah menjangkau dan memberdayakan sebanyak itu Desa BRILiaN di seluruh nusantara, dengan fokus pada penguatan kelembagaan, inovasi, digitalisasi, dan pengembangan ekonomi desa secara berkelanjutan. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa dijaga sebelum program desa kembali layu di tengah jalan seperti pendahulu-pendahulunya? Agaknya BRI sadar betul risiko itu. Dan itulah, bisa jadi, alasan mengapa mereka memilih jalur budaya di Bawomataluo, bukan sekadar menyebar brosur kredit.