Batam sedang bersolek jadi tujuan investasi pusat data, tapi BP Batam tidak mau asal sambut. Setiap investor yang berminat masuk ke sektor ini wajib menyiapkan infrastruktur air dan listriknya sendiri, bukan mengandalkan cadangan yang sudah ada.
Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad menegaskan prinsip ini berlaku tanpa pengecualian. Seluruh proposal investasi pusat data yang masuk akan disaring berdasarkan kesiapan utilitas, terutama pasokan air baku dan keandalan listrik. Bukan sekadar janji di atas kertas, tapi kesanggupan konkret sebelum proyek diizinkan jalan.
"Setiap proposal yang masuk kami sampaikan apa saja kendala yang kami hadapi, terutama terkait keandalan listrik dan ketersediaan air baku," ungkap Amsakar, Kamis (9/7/2026). Transparansi sejak dini, agaknya, menjadi cara BP Batam menghindari konflik sebelum proyek bahkan menyentuh tanah.
Salah satu calon investor yang sudah lebih jauh berdiskusi adalah DayOne. Perusahaan ini bersedia membangun jaringan perpipaan tahap awal sekaligus merancang fasilitas sea water reverse osmosis (SWRO) untuk mengolah air laut menjadi air bersih bagi kebutuhan operasional pusat datanya. "Untuk pipanisasi tahap awal mereka sudah bersedia berinvestasi. Mereka juga siap membangun fasilitas SWRO sehingga kebutuhan air untuk investasi dapat dipenuhi tanpa membebani cadangan air yang ada," kata Amsakar.
Skema yang dirancang cukup menarik. Aset infrastruktur yang dibangun investor nantinya diserahkan kepada pemerintah, sementara operasionalnya tetap di tangan investor sesuai ketentuan berlaku. Batam kebagian suntikan kapasitas infrastruktur baru tanpa harus merogoh APBD. Investor, di sisi lain, mendapat kepastian pasokan utilitas yang tidak bergantung pada jaringan eksisting yang sudah tertekan.
Logikanya sederhana. Kalau data center masuk beramai-ramai sementara kapasitas air dan listrik tidak ikut naik, warga yang menanggung dampaknya. Dan kalau warga sudah resah soal pasokan air, kepercayaan investor berikutnya ikut tergerus. Spiral negatif yang ingin dipotong BP Batam sejak awal.
"Kalau investasi masuk tetapi persoalan air dan listrik tidak diantisipasi, tentu akan memengaruhi kepercayaan investor. Karena itu seluruh risiko dan langkah antisipasinya kami bahas bersama sejak awal," tegas Amsakar.
Pendekatan ini bisa jadi preseden menarik, terutama dengan derasnya minat investor asing membangun pusat data di Indonesia, Batam jadi salah satu titik incar karena kedekatannya dengan Singapura. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal tren, kota ini sedang memposisikan diri bukan sekadar murah dan dekat, tapi juga siap secara infrastruktur. Investasi digital boleh deras masuk. Infrastruktur dasar tidak boleh jadi korban.