Sekitar sepertiga pasokan minyak laut dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Jalur itu kini berada di persimpangan paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.
Lewat serangkaian unggahan di Truth Social pada Minggu (12/4), Trump mengumumkan bahwa AS akan memberlakukan blokade laut terhadap Iran. US Central Command kemudian merinci bahwa blokade itu akan menghentikan seluruh kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan-pelabuhan Iran, sebuah ketentuan yang sedikit berbeda dari apa yang semula disampaikan Trump secara langsung. "Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas," tulisnya.
Sehari berselang, militer Tehran membalas. Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, menegaskan Senin (13/4) bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk Persia atau Laut Oman yang akan tetap aman jika fasilitas maritim Iran dijadikan sasaran. "Keamanan harus berlaku untuk semua pihak, atau tidak untuk siapa pun," katanya. Zolfaqari juga menekankan bahwa kapal-kapal yang terafiliasi dengan "kekuatan musuh" tidak akan diizinkan melintas Selat Hormuz.
Bukan gertakan kosong.
Eskalasi ini merupakan anak tangga dari kegagalan perundingan di Islamabad, Sabtu (11/4), yang berlangsung selama 20 jam dan dipimpin Wakil Presiden JD Vance dari sisi AS. Trump mengklaim ada "kemajuan", tapi seorang pejabat AS yang memahami jalannya negosiasi itu membantah. Daftar perbedaan antara kedua pihak, kata pejabat tersebut, jauh lebih panjang dari yang diakui publik: ambisi nuklir Iran, kendali atas Selat Hormuz, sampai dukungan Tehran terhadap Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon, semuanya masih buntu.
Trump juga menyatakan AS akan "membersihkan ranjau" di Selat Hormuz demi mengamankan pelayaran kapal-kapal sekutu. Militernya, tambahnya, berada dalam posisi siap tempur untuk melanjutkan serangan terhadap Iran "pada waktu yang tepat."
Bagi pasar energi, skenario ini ibarat pedang bermata dua. Blokade yang berhasil bisa mencekik pendapatan minyak Iran, dan memang itulah tujuannya. Tapi kalau Tehran nekat menutup Hormuz sebagai balasan, dunia yang kena batunya. Pertanyaannya, seberapa jauh Iran bersedia menggertak sebelum benar-benar menarik pelatuk?
China, sebagai pembeli terbesar minyak Iran, agaknya tidak akan tinggal diam. Bagaimana Beijing merespons adalah pertanyaan yang, sampai saat ini, belum ada yang berani menjawab dengan pasti.
Sederet pertanyaan lain masih menggantung: apakah operasi pembersihan ranjau akan membuat kapal-kapal Angkatan Laut AS kian rentan terhadap serangan? Bagaimana AS menentukan siapa yang membayar "pungutan" ke Iran? Dan, yang paling pahit buat Washington, apakah blokade ini justru mendorong harga minyak ke level yang merugikan AS sendiri?
Tidak ada jawaban yang jelas. Selama ketidakpastian ini belum mereda, volatilitas di pasar komoditas energi hampir pasti akan tetap tinggi. Investor yang terekspos ke sektor minyak dan gas, atau ke emiten yang sensitif terhadap harga energi, sebaiknya tidak lengah.