MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Tersungkur ke US$73.061, Stagflasi AS Jadi...

Finansial

Bitcoin Tersungkur ke US$73.061, Stagflasi AS Jadi Biang Kerok

Bitcoin dan Ethereum kompak melemah dalam sepekan terakhir, tertekan kombinasi risiko stagflasi Amerika Serikat, eskalasi geopolitik Timur Tengah, dan putar haluan investor institusi yang mulai defensif.

Bitcoin dan Ethereum Kompak Melemah, Analis Soroti Tekanan Stagflasi AS

Bitcoin kembali dihajar. Harga aset kripto terbesar di dunia itu amblas 3,44% dalam 24 jam ke level US$73.061, atau sekitar Rp1,19 miliar per koin, berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (28/5) pukul 14.10 WIB. Secara mingguan, koreksinya sudah mencapai 5,75%.

Ethereum tak lebih baik. ETH merosot 4,41% dalam sehari ke US$1.982, dengan pelemahan mingguan yang bahkan lebih dalam: 6,78%. Dua jawara kripto ini kompak angkat bendera putih di hadapan tekanan yang datang dari banyak arah sekaligus.

Apa yang terjadi? Fahmi Almuttaqin, analis dari platform kripto Reku, menyebut pasar kripto tahun ini dihantam badai multi-faktor yang jarang terjadi bersamaan. Konflik Iran mendorong harga minyak naik, yang pada gilirannya memanaskan kembali tekanan inflasi di AS. Situasi ini mempersulit The Fed untuk melunak. "Inflasi semakin menjauh dari target sehingga The Fed belum memiliki ruang yang cukup untuk menurunkan suku bunga," ujar Fahmi kepada Kontan, Selasa (26/5).

Itulah inti kekhawatiran pasar saat ini: stagflasi. Pertumbuhan melambat, inflasi ngotot, bank sentral tangan terikat. Bagi aset berisiko tinggi seperti kripto, skenario ini bak pedang bermata dua.

Yang memperburuk sentimen, investor institusi yang selama ini jadi motor penggerak reli kripto mulai putar haluan. Mereka yang sebelumnya agresif membangun posisi kini bergeser ke mode defensif. Pergeseran ini bukan sekadar efek psikologis. Agaknya bukan kebetulan pula bahwa ini terjadi tepat ketika momentum bullish kripto sedang paling rapuh.

Pertanyaannya, ke mana arahnya dari sini?

Fahmi membuka dua skenario. Jika The Fed mulai memberikan sinyal pemangkasan suku bunga di kuartal III tahun ini, Bitcoin berpeluang rebound ke kisaran US$90.000 hingga US$100.000. Ethereum, dalam skenario serupa, diproyeksikan menguat ke rentang US$2.400 hingga US$2.800. Angka yang tidak main-main bagi mereka yang kini nyangkut.

Sebaliknya, kalau inflasi kembali memanas dan kenaikan suku bunga justru kembali masuk kalkulasi, Bitcoin bisa menguji lagi level psikologis US$60.000. Level yang sudah cukup lama tidak terlihat, dan tidak banyak yang mau ke sana lagi.

Untuk investor yang sudah kadung masuk, strategi DCA (dollar cost averaging) alias akumulasi bertahap jadi rekomendasi yang konsisten disebut Fahmi. Diversifikasi antar aset kripto dengan karakter pergerakan berbeda juga dinilai penting untuk meredam guncangan volatilitas yang agaknya belum mereda dalam waktu dekat.

Sejumlah variabel patut dipantau ketat dalam beberapa pekan ke depan: arah kebijakan The Fed, arus masuk dan keluar dana ETF kripto, data ekonomi AS terbaru, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Salah satu dari faktor ini bergerak, pasar kripto kemungkinan besar ikut bergetar.