Dua pekan berturut-turut di zona merah. Itulah potret Bitcoin sekarang, dan angka-angkanya tidak ramah bagi siapa pun yang masih nyangkut di harga atas.
Sepanjang perdagangan pekan ini, harga Bitcoin (BTC) sempat amblas menembus US$80.400 sebelum sedikit terkerek ke kisaran US$82.045 per koin, setara sekitar Rp1,4 miliar. Pemicunya bukan rahasia: data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang kembali melonjak di luar kendali, berbarengan dengan bengkaknya pengeluaran pemerintah AS ke level tertinggi sejak 2021. Likuidasi posisi harian di pasar kripto global dilaporkan menyentuh Rp17 triliun. Angka yang tidak main-main, dan itu hanya dalam satu hari.
Padahal, belum lama ini Bitcoin sempat mendekati US$90.000. Level psikologis yang membuat banyak pelaku pasar optimistis tren bull akan berlanjut. Agaknya euforia itu terlalu cepat.
Koreksi kali ini bukan sekadar noise harian. Para analis menilai ada fundamental makro yang sedang bergeser. The Federal Reserve kini diproyeksikan menaikkan suku bunga acuan setidaknya 25 hingga 50 basis poin sebelum tutup tahun. Suku bunga naik, yield obligasi pemerintah AS ikut menguat, dolar mengeras, dan aset-aset berisiko seperti kripto otomatis kehilangan daya tariknya. Analis Pasar Utama FxPro Alex Kuptsikevich mencatat indeks sentimen kripto telah amblas ke angka 53, level terendah baru sejak medio September 2026. "Bitcoin merosot setelah data inflasi AS melampaui perkiraan. Kendati demikian, bahkan sebelum data dipublikasikan, kripto utama ini sudah dijual cepat saat berusaha menanjak di atas US$84.000," ungkap Kuptsikevich.
Dua suara besar. Dua arah yang berlawanan.
CEO BlackRock Larry Fink melayangkan peringatan keras. Utang pemerintah AS kini membengkak hingga US$40 triliun, dan kondisi ini, menurut Fink, memberikan tekanan struktural yang serius pada perekonomian. "Utang kita membengkak sebesar US$32 triliun hanya dalam jangka waktu 26 tahun. Ini memberikan dampak yang sangat masif terhadap permintaan kredit. Pemerintah terus-menerus menuntut lebih banyak kredit, dan lelang obligasi negara pun ukurannya makin membesar," tegas Fink, pernyataan yang muncul bersamaan dengan rilis laporan keuangan kuartal III-2026 BlackRock yang justru melampaui ekspektasi pasar. Fink juga menyoroti risiko jika belanja modal sektor AI yang selama ini menopang ekonomi AS tiba-tiba berhenti mengalir.
Trader kripto Arthur Hayes justru melihat krisis ini sebagai setup jangka panjang yang menarik. Hayes memperingatkan bahwa perusahaan teknologi berisiko membuang triliunan dolar untuk infrastruktur AI, dan ketika siklus itu berakhir, bailout hampir pasti datang. "Selalu ada pola krisis di akhir, dan selalu ada bailout. Bitcoin dan pasar kripto secara luas akan menyerap kelebihan likuiditas tersebut, dan kita tahu aset mana yang akan mencatatkan kinerja terbaik ketika suntikan dana penyelamatan itu tiba," kata Hayes. Pandangan optimistis yang, jujur saja, masih perlu dibuktikan data.
Dari Washington, Trump masih lantang mendukung aset digital. Pasar, sepertinya, lebih memilih mencermati arah kebijakan moneter ketimbang mendengarkan retorika politik.
Evolusi Bitcoin sebagai aset patut dicermati. Dulu ia dijual sebagai "emas digital" yang kebal dari sistem keuangan konvensional. Kini, seiring masuknya investor institusional lewat ETF dan adopsi masif industri keuangan arus utama, Bitcoin bergerak makin seirama dengan saham teknologi dan sentimen risk-on global. Ironisnya, semakin Bitcoin diterima mainstream, semakin ia tunduk pada dinamika yang sama dengan aset yang dulu ingin ia gantikan. Bak pedang bermata dua.
Bertahan di atas US$82.000 mungkin bukan kemenangan besar. Tapi untuk pasar yang baru saja dihajar likuidasi Rp17 triliun dalam sehari, setidaknya itu bukan ARB.