JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Tersangkut di $64 Ribu: Reli Inflasi vs Ba...

Finansial

Bitcoin Tersangkut di $64 Ribu: Reli Inflasi vs Bayangan Iran

Data CPI Juni yang mendingin memompa Bitcoin ke kisaran $65.000, tapi aksi jual investor jangka panjang dan eskalasi militer AS-Iran membuat reli ini terasa rapuh.

Bitcoin Naik 6%, CEO FLOQ: Pasar Kripto Masih di Zona Waspada - SWA.co.id

Inflasi AS mendingin, Bitcoin ikut melejit. Tapi jangan keburu senang.

Setelah data Consumer Price Index Juni 2026 keluar, harga Bitcoin melesat dari sekitar $62.186 pada Selasa (14/7) malam menjadi $64.802 hanya dalam hitungan jam, sempat menyentuh $65.000 secara singkat sebelum tertahan. Per Rabu pagi waktu Jakarta, BTC diperdagangkan di kisaran $64.884, naik 4,10 persen dalam 24 jam. Kapitalisasi pasarnya kini menembus $1,29 triliun, setara Rp 23.324 triliun.

Angka inflasi Juni memang menjanjikan di atas kertas. CPI tahunan melandai ke 3,5 persen, lebih rendah dari proyeksi pasar di 3,8 persen dan turun tajam dari 4,2 persen bulan Mei. Secara bulanan, AS bahkan mencatat deflasi -0,4 persen, penurunan terbesar sejak April 2020. Inflasi inti ikut melunak ke 2,6 persen. Data PPI Juni juga keluar di bawah ekspektasi. Wajar kalau pasar merespons antusias.

Tapi ada yang patut dicermati dari angka-angka ini. Penurunan inflasi Juni sangat ditopang oleh turunnya harga energi saat gencatan senjata AS-Iran masih berlaku. Gencatan itu kini sudah runtuh. Militer AS melancarkan serangan udara ke sistem pertahanan pantai Iran di Pulau Greater Tunb, Iran membalas dengan menutup kembali Selat Hormuz, dan harga minyak Brent langsung terkerek ke $84,95 per barel, tertinggi dalam sebulan. Selat Hormuz sendiri menguasai sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Angka yang tidak main-main.

Ketua The Fed Kevin Warsh sudah memperingatkan di Kongres bahwa faktor eksternal semacam ini bisa membalikkan tren inflasi, dan bank sentral tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga. "Inflasi adalah sebuah pilihan," kata Warsh, kalimat yang cukup tegas untuk meredam optimisme pasar.

Data on-chain menambah tekanan dari sudut berbeda. Investor jangka panjang, mereka yang umumnya memegang Bitcoin minimal lima bulan, mulai melepas posisi meski sebagian masih mencatat kerugian. Ini sinyal yang agak mengkhawatirkan karena biasanya kelompok ini justru tangan terkuat di pasar. Investor jangka pendek yang masuk saat harga rendah kini ramai-ramai ambil untung, dengan nilai profit-taking mencapai lebih dari $4 juta per hari, mendekati pola yang terjadi pada Mei lalu saat BTC sempat melesat ke $82.000. Dua kelompok ini menjual bersamaan. Tekanan suplai dari atas semakin nyata.

CEO FLOQ Yudhono Rawis menilai pergerakan pasar saat ini lebih banyak digerakkan faktor eksternal ketimbang fundamental industri kripto itu sendiri. "Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mengingatkan kita bahwa aset kripto tetap menjadi bagian dari pasar keuangan global yang sensitif terhadap perubahan sentimen risiko," ujar Yudho, Selasa (14/7/2026). Ia menambahkan bahwa investor sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan tren bullish hanya dari pergerakan harga beberapa hari.

Menarik bahwa pasar kripto kali ini tidak terlalu panik dengan berita konflik Iran, berbeda dengan awal tahun saat judul serupa sempat menghantam harga cukup keras. Bitcoin berhasil pulih di atas $63.000 hanya dalam beberapa hari setelah serangan pertama. Di Korea Selatan, fenomena rotasi aset terjadi secara nyata: KOSPI sudah masuk bear market dengan penurunan lebih dari 20 persen dari puncaknya, sebagian besar diseret oleh Samsung dan SK Hynix. Volume trading di Upbit, bursa kripto terbesar Korea, melonjak 1.318 persen menjadi $4,2 miliar dalam 24 jam. Entah kebetulan atau tidak, sebagian dari lonjakan volume itu bersifat terpaksa karena sekitar 1,2 juta akun dengan posisi leverage terkena margin call.

Altcoin bergerak campur aduk. Ethereum naik lebih agresif dengan apresiasi mingguan 10,65 persen ke level $1.920. Zcash melesat 23,74 persen dalam sepekan, agaknya karena fungsinya sebagai aset privasi jadi lebih menarik kala konflik global memanas. Solana dan sejumlah token DeFi berkapitalisasi kecil justru tergerus karena investor ritel cenderung risk-off.

Analis Bitget Ryan Lee dan trader OTC Wintermute Jasper De Maere sama-sama bilang: data inflasi yang lebih rendah belum cukup untuk memastikan perubahan arah tren. Area resistensi kuat Bitcoin ada di $80.000 hingga $85.000. Proyeksi bearish menyebut potensi cycle bottom di $40.000 hingga $45.000 pada kuartal ketiga atau keempat 2026, jika dampak kenaikan harga energi benar-benar bertransmisi ke kebijakan moneter. Bagi investor ritel yang sedang menimbang apakah ini momentum masuk, pertanyaannya sederhana: apakah reli yang lahir dari inflasi rendah karena gencatan senjata yang kini sudah runtuh adalah fondasi yang cukup kuat untuk ditinjaiki?