RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Tembus USD66.500, ETF Lawan Geopolitik di...

Finansial

Bitcoin Tembus USD66.500, ETF Lawan Geopolitik di Persimpangan Harga

Bitcoin terus merangkak naik ke kisaran USD66.512 pada Rabu pagi, ditopang arus masuk ETF spot yang solid, meski ketegangan AS-Iran dan prospek suku bunga tinggi masih menjadi rem laju reli.

Bitcoin Tembus USD65 Ribu, Sentimen Geopolitik Batasi Reli

Bitcoin menyentuh USD66.512,53 pada Rabu (22/7/2026) pagi waktu Jakarta, melanjutkan tren positif yang sudah terbentuk sejak pekan lalu. Angka itu setara sekitar Rp1,19 miliar per koin dengan kurs Rp17.880, mencerminkan kenaikan 1,86 persen dalam 24 jam terakhir dan 2,20 persen dalam sepekan.

Perjalanan ke level ini tidak mulus. Senin malam (20/7), Bitcoin tergerus ke USD64.190 sebelum berbalik dan menembus USD65.703 pada dini hari. Selasa siang momentum kembali menguat, harga bertengger di USD66.347, naik 6,08 persen dalam tujuh hari. Kapitalisasi pasar kini USD1,3 triliun, setara Rp23.319 triliun.

Dua kekuatan berlawanan sedang menarik harga ke arah yang berbeda. Arus masuk bersih ke ETF Bitcoin spot terus menyerap tekanan jual dan menopang valuasi. Permintaan institusional lewat produk terregulasi ini dinilai sebagai salah satu faktor struktural terkuat di balik pemulihan sejak pertengahan Juli. Tapi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat sebagian investor enggan pasang posisi agresif. Bukan kebetulan kalau reli ini terasa setengah-setengah.

Konflik Timur Tengah, agaknya, justru sedang membentuk narasi baru bagi Bitcoin. Andri Fauzan, analis dari Reku, menilai kenaikan harga minyak akibat risiko gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendorong inflasi global, yang pada gilirannya membuat investor institusional mencari tempat berlindung di aset alternatif. "Sinyal kuat bahwa cycle low mungkin sudah terbentuk di area USD59.000 hingga USD64.800," ungkap Andri. Proyeksinya: Bitcoin bisa menyentuh USD80.000 hingga USD100.000 pada akhir 2026, ditopang tiga faktor, arus masuk ETF, adopsi institusional yang meluas, dan posisi 200-day moving average di sekitar USD71.000 yang berpotensi menjadi support kuat.

Secara teknikal, pergerakan saat ini membentuk pola ascending triangle disertai higher lows. Bitcoin juga bertahan di atas 50-day moving average di sekitar USD65.400. Bukan posisi yang buruk, mengingat aset ini masih mencatatkan kinerja negatif sejak awal tahun dan masih sekitar 50 persen di bawah rekor tertingginya pada Oktober 2025.

Altcoin ikut kecipratan momentum. Ethereum naik 2,2 persen ke USD1.902, Solana menguat 2,7 persen, Cardano 3 persen, XRP 2,1 persen. Andri melihat prospek menarik di luar Bitcoin: Ethereum dan Solana sebagai Layer-1 dengan ekosistem DeFi matang, XRP untuk pembayaran lintas negara, serta ONDO dan HYPE yang berpotensi terkerek dari tren tokenisasi aset. DTCC dilaporkan mulai uji coba produksi tokenisasi saham Russell 1000 pada Juli 2026, dan pasar tampaknya sudah mulai menghitung potensinya.

Bagi investor ritel yang tergoda mengejar reli ini, saran Andri cukup lugas: terapkan DCA, alokasikan 60 persen ke Bitcoin dan Ethereum, 20 persen ke altcoin pilihan, sisakan 20 persen di stablecoin. "Fokus jangka panjang pada fundamental dan manajemen risiko akan jauh lebih unggul daripada mengejar hype di kondisi seperti sekarang," kata Andri. Keputusan The Fed soal suku bunga tetap jadi variabel yang bisa membalik seluruh skenario ini dalam semalam.