MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Sentuh $79.000 Dibakar CLARITY Act, Reli M...

Finansial

Bitcoin Sentuh $79.000 Dibakar CLARITY Act, Reli Mulai Kehilangan Napas

Bitcoin sempat melesat hampir 25% dalam sepekan terakhir terkerek optimisme regulasi kripto AS, sebelum kembali terkoreksi ke kisaran $78.879 menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat.

Menguat Berkat Sentimen Clarity Act AS, Bitcoin Tembus 79.000 Dollar

Sepanjang pekan lalu, Bitcoin dihajar reli yang cukup brutal. Harga aset kripto terbesar di dunia ini melonjak sekitar 24,31 persen dalam tujuh hari, sempat menyentuh kisaran 79.000 dollar AS atau setara Rp 1,4 miliar per koin, sebelum akhirnya mulai terkoreksi saat momentum pemulihan mereda.

Berdasarkan data CoinMarketCap, per Rabu (26/8/2026) pukul 14.00 WIB harga Bitcoin berada di level 78.879 dollar AS, melemah 2,03 persen dalam 24 jam terakhir. Koreksi ini agaknya bukan sinyal pembalikan besar, melainkan tipikal aksi ambil untung setelah reli tajam, ditambah tekanan dari investor yang menahan posisi menjelang rilis data inflasi AS.

Katalis utama penguatan pekan lalu? CLARITY Act. Rancangan undang-undang yang secara resmi bernama Cryptocurrency Legal Clarity Act ini tengah berproses di Kongres AS dan berpotensi jadi titik balik bagi industri aset digital. Presiden Donald Trump sebelumnya sudah mendorong Kongres untuk segera mengesahkan versi yang menurutnya adil dari beleid tersebut.

Substansi RUU ini yang membuat pelaku pasar bersemangat: kejelasan klasifikasi aset kripto dan pembagian kewenangan antara SEC dan CFTC. Selama bertahun-tahun, ketidakjelasan soal apakah sebuah token termasuk sekuritas atau komoditas menjadi salah satu hambatan terbesar bagi masuknya dana institusional ke pasar kripto. Kalau CLARITY Act lolos, hambatan itu setidaknya berkurang satu lapis.

Ryan Lymn, Direktur Operasional Bittime, menilai reli ini mencerminkan betapa cepatnya sentimen pasar bisa berputar ketika ada perkembangan positif di sisi regulasi. "Penguatan Bitcoin menunjukkan sentimen pasar dapat berubah dengan cepat ketika muncul perkembangan positif terkait regulasi. Namun, investor tetap perlu melihat kondisi pasar secara menyeluruh karena volatilitas aset kripto masih cukup tinggi," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Tapi bisa jadi euforia ini terlalu dini. Proses legislasi di AS tidak pernah sesederhana judulnya, dan CLARITY Act masih punya jalan panjang sebelum menjadi hukum. Di luar itu, ada beberapa faktor yang patut dicermati sebelum investor terlalu percaya diri membaca reli ini sebagai tren jangka panjang.

Suku bunga The Fed tetap jadi variabel kunci. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS bisa menggerakkan selera risiko investor, termasuk di pasar kripto. Satu angka inflasi yang lebih panas dari perkiraan? Cukup untuk bikin optimisme rontok dalam hitungan jam.

Pertanyaannya, berapa lama tren ini bisa bertahan?

"Dalam kondisi seperti sekarang, investor perlu melihat penguatan Bitcoin bukan hanya dari pergerakan harga, tetapi juga dari faktor yang mendasarinya. Kebijakan moneter, kondisi ekonomi global, dan perkembangan regulasi masih dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat," kata Ryan. Klaim yang masih perlu dibuktikan oleh pergerakan harga dalam beberapa pekan mendatang.

Kondisi geopolitik dan pertumbuhan ekonomi global juga masih jadi sumber volatilitas yang tidak bisa dikesampingkan. Ketidakpastian soal inflasi, ditambah potensi perubahan kebijakan di berbagai negara, bisa mendorong investor menyesuaikan portofolio begitu sentimen pasar berbalik.

Untuk investor ritel yang terlanjur masuk di harga tinggi pekan lalu, koreksi dua persen ini belum mengkhawatirkan. Tapi kalau data inflasi AS mengecewakan pasar dan The Fed makin hawkish, kombinasi itu bisa bikin Bitcoin nyangkut lebih dalam dari yang diperhitungkan. Pola klasik yang sudah terlalu sering kita lihat sejak 2022.