Sepanjang awal Juli, Bitcoin sempat amblas ke bawah US$58.000. Kini aset kripto terbesar itu sudah bangkit ke kisaran US$64.717 per Minggu (19/7/2026), naik dari level tertekan sebelumnya, meski dua hari sebelumnya masih bertengger di US$62.985 dengan koreksi 1,7% dalam 24 jam dan tergerus hampir 3% secara bulanan.
Rally singkat ini agaknya lebih ditopang aksi institusi ketimbang antusiasme ritel. Data pasar menunjukkan ada pembelian 20.000 kontrak opsi beli Bitcoin dengan harga pelaksanaan US$70.000 yang jatuh tempo 31 Juli, dibarengi penjualan jumlah kontrak serupa di strike US$72.000. Strategi ini dikenal sebagai bull call spread, dengan nilai nosional sekitar US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,86 triliun. Besarnya nilai transaksi dan kompleksitas strukturnya lebih mencerminkan selera investor besar daripada ritel yang biasanya main di spot.
Timing-nya menarik. Kontrak itu jatuh tempo dua hari setelah rapat Federal Reserve pada 29 Juli, dan pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang 75-80 persen bahwa The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen, setelah inflasi AS di bulan Juni menunjukkan tekanan harga mulai reda. Tapi ada catatan: meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta kenaikan harga minyak bisa memantik kembali tekanan harga, yang pada gilirannya mempersulit kalkulasi bank sentral.
Dari sudut pandang analis lokal, prospek jangka pendek Bitcoin masih buram. Co-founder CryptoWatch Christopher Tahir menyebut minimnya katalis positif dan data ekonomi AS yang masih solid membuat pasar condong mempertahankan postur hawkish. "Hal ini tentunya akan membuat pelaku pasar menjadi cenderung risk-off," jelasnya saat dihubungi Kontan, Jumat (17/7). Untuk akhir 2026, Christopher memproyeksikan Bitcoin bergerak di kisaran US$50.000-US$60.000. Dari level saat ini, itu bukan proyeksi yang nyaman didengar.
Bagi yang sudah terlanjur nyangkut atau sedang mengincar entry point, Christopher menyarankan tidak terburu-buru. Harga Bitcoin, menurutnya, kemungkinan besar belum menyentuh dasar. Pembelian idealnya dilakukan saat harga mendekati level support terkuat, bukan sekadar karena sudah "turun banyak."
Di luar soal harga, ada dua isu struktural yang mulai menarik perhatian komunitas kripto. Pertama, perdebatan soal Bitcoin Improvement Proposal 110 yang mengusulkan pembatasan transaksi bermuatan data besar di jaringan Bitcoin. Michael Saylor, Ketua Strategy Inc., menolak logika usulan itu. Menurutnya, aturan konsensus Bitcoin tidak semestinya memilah-milah transaksi mana yang "layak" menggunakan ruang blok. Adam Back, salah satu pendiri Blockstream, memperingatkan hal senada: penerapan aturan tanpa dukungan mayoritas berisiko memecah komunitas. Dukungan terhadap BIP 110 sendiri masih jauh dari ambang aktivasi 1.109 blok dari 2.016 blok yang ditambang.
Kedua, konsentrasi hashrate. Per Juni, empat kelompok penambang besar menguasai lebih dari 70 persen total daya komputasi jaringan Bitcoin. Foundry Digital di posisi teratas dengan 27-31 persen, disusul AntPool 17-18 persen, F2Pool 10-17 persen, dan ViaBTC 13 persen. Koefisien Nakamoto Bitcoin jatuh ke angka tiga. Tiga entitas terbesar, cukup. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Skenario terbaik buat investor yang masih melirik Bitcoin: tunggu kepastian The Fed akhir Juli. Kalau bank sentral AS mengejutkan pasar dengan nada yang lebih dovish, ada ruang bagi Bitcoin menguji level US$70.000, sesuai taruhan institusi itu. Kalau tidak? Level US$50.000-an bisa kembali jadi kenyataan.