RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Pizza Day ke-16: Dari US$41 Dua Pizza ke R...

Finansial

Bitcoin Pizza Day ke-16: Dari US$41 Dua Pizza ke Rp1,4 Miliar per Koin

Enam belas tahun lalu, 10.000 Bitcoin ditukar dua pizza seharga US$41. Kini OJK mengingatkan potensi sekaligus risiko besar di balik aset yang harganya sudah menyentuh Rp1,4 miliar per koin itu.

Pesan Penting soal Kripto buat Para Pemula

Sepiring pizza seharga US$41. Itulah nilai 10.000 Bitcoin di tahun 2010, ketika programmer Laszlo Hanyecz pertama kali menggunakan Bitcoin untuk membeli barang nyata, dua kotak pizza Papa John's. Enam belas tahun kemudian, komunitas kripto global memperingati momen itu sebagai Bitcoin Pizza Day, dan angka yang sama, 10.000 BTC, kini bernilai lebih dari US$750 juta.

Kisah pizza legendaris itu kembali bergema di Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5), ketika Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menggunakannya sebagai pengantar peringatan keras soal investasi kripto. "Bitcoin itu nilainya mungkin tahun 2010, itu cukup 10.000 BTC itu hanya sepiring pizza, US$41. Sekarang Rp1,4 miliar. Jadi nilainya terus meningkat," ujar Adi di hadapan peserta festival.

Tapi narasi pertumbuhan itu bukan tanpa catatan. Adi menegaskan bahwa return yang "luar biasa tinggi" selalu berjalan beriringan dengan risiko yang setara besarnya. "Pakai uang untuk investasi kripto, itu adalah uang yang sudah setelah anda nabung untuk dana pensiun, sudah nabung untuk kebutuhan hidup. Jadi pakai uang yang sudah disisihkan dan anda siap masuk ke industri yang sangat-sangat berisiko," terang Adi. Bukan uang bulanan. Bukan dana darurat.

Dari sisi harga, Bitcoin sedang tidak dalam momentum terbaiknya. Data CoinMarketCap per Sabtu (23/5) pagi menunjukkan Bitcoin amblas 2,79% dalam 24 jam ke level US$75.388, turun dari kisaran US$77.500 setelah aksi ambil untung menekan harga secara bertahap. Kapitalisasi pasarnya tercatat US$1,51 triliun dengan volume harian US$29,48 miliar. Masih raksasa, tapi jauh dari rekor tertinggi mendekati US$126.000 pada Oktober 2025, ketika 10.000 BTC teoritis Hanyecz sempat bernilai lebih dari US$1,2 miliar.

Total suplai Bitcoin saat ini sudah menyentuh 20,03 juta BTC dari batas keras 21 juta, artinya lebih dari 95% koin sudah beredar. Fully diluted valuation-nya tercatat di level US$1,58 triliun.

Tahun ini Bitcoin Pizza Day datang bersamaan dengan sejumlah perkembangan geopolitik yang, entah kebetulan atau tidak, cukup menggelitik. RUU Missouri HB2080 di AS mengusulkan kerangka cadangan strategis berbasis Bitcoin. Iran, agaknya lebih pragmatis dari yang dibayangkan, dilaporkan mempertimbangkan Bitcoin dan stablecoin untuk mengelola pembayaran tol pengiriman minyak di Selat Hormuz, memotong ketergantungan pada dolar dalam transaksi lintas batas.

Apakah itu pertanda Bitcoin sudah benar-benar menjadi mata uang dunia? Pertanyaan yang belum ada jawaban tunggalnya. Nischal Shetty, pendiri bursa kripto WazirX, menyebutnya tonggak penting. "Bitcoin Pizza Day mengubah Bitcoin dari eksperimen internet menjadi jaringan ekonomi nyata," kata Shetty. Sejumlah pengamat tetap skeptis soal implementasi skala besar, menilai stablecoin masih jauh lebih praktis untuk transaksi lintas negara.

Di dalam negeri, ekosistem kripto terus berkembang meski volume transaksi 2025 tergerus ke Rp482,23 triliun dari Rp650,61 triliun di 2024. Yang justru menarik: penerimaan pajaknya malah melonjak ke Rp796,73 miliar. Saat ini ada 1.464 aset kripto yang diperdagangkan di dua bursa resmi Indonesia, CFX dan ICEx.

Enam belas tahun perjalanan Bitcoin membuktikan satu hal. Mereka yang beli pizza di 2010 mungkin tidak menyesal makan malam, tapi mereka yang pegang Bitcoin-nya sampai sekarang, bak gayung bersambut dengan setiap siklus bull, pasti tersenyum jauh lebih lebar.