Sepanjang pekan ini, Bitcoin tidak banyak memberikan kabar baik bagi pemegangnya. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu sempat mencicipi level US$78.000 untuk pertama kalinya dalam sesi perdagangan terbaru, tetapi euforianya cepat padam. Harga berbalik turun, dan pada Jumat (22/5) pukul 13.25 WIB tercatat di US$77.375, melemah 0,35% secara harian. Kerugian mingguan pun kian membebani pasar.
Penolakan di area US$78.000 bukan sekadar angka. Bagi sebagian analis teknikal, ini sinyal bahwa tekanan jual masih lebih kuat dari dorongan beli. Sejak 14 Mei, Bitcoin sudah kehilangan lebih dari US$4.500 atau hampir 6% dari nilainya, menghapus sebagian besar reli yang sempat membuat optimisme investor muncul kembali di awal bulan.
"Penolakan di area US$78.000 menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih cukup dominan. Bitcoin memang sempat menunjukkan pemulihan jangka pendek, tetapi belum didukung oleh volume dan sentimen yang cukup kuat," ujar Fyqieh Fachrur, analis Tokocrypto, Jumat (22/5/2026).
Kekhawatiran soal potensi kelanjutan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran membuat selera risiko investor global menyusut, dan aset kripto biasanya yang pertama kena imbasnya. Bak luka lama yang kambuh, sentimen geopolitik semacam ini sudah beberapa kali menjadi batu sandungan Bitcoin ketika ia mencoba pulih.
Yang agaknya lebih mengkhawatirkan adalah kondisi arus dana ETF Bitcoin spot yang belum berbalik. Outflow yang masih berlanjut mengindikasikan bahwa investor institusional, yang sempat menjadi motor reli Bitcoin ke atas US$100.000 akhir tahun lalu, kini justru memanfaatkan setiap momen rebound untuk keluar, bukan masuk. Pola seperti ini susah diabaikan.
US$77.000. Itulah angka yang kini paling diawasi pelaku pasar. Fyqieh menyebut level itu sebagai area krusial jangka pendek: selama bertahan, Bitcoin masih punya peluang menguji kembali resistance di kisaran US$78.000 hingga US$80.000. Tapi kalau jebol dengan tekanan jual yang deras, perjalanan menuju US$76.000 bahkan US$70.000 bukan lagi sekadar skenario pesimistis.
Persaingan memperebutkan arus modal pun semakin ketat. Sektor teknologi dan semikonduktor di pasar saham global masih lebih seksi di mata sebagian investor, membuat kripto kesulitan menarik modal segar. Pasar kripto butuh katalis baru. Sampai sekarang, belum ada yang cukup kuat untuk mengubah narasi.
Bagi investor ritel yang masih memegang posisi, situasi ini menuntut kesabaran. Fyqieh menyarankan strategi bertahap dengan manajemen risiko yang lebih ketat, sembari memantau ETF flow, data on-chain, dan perkembangan makro sebelum mengambil keputusan. Volatilitas memang sudah jadi bagian dari DNA pasar kripto, tapi kali ini ia datang berbarengan dengan absennya katalis positif yang nyata. Entah kebetulan atau tidak, kombinasi itulah yang paling bikin investor ritel gamang.