Sepanjang pekan ketiga Juli 2026, Bitcoin tidak mampu mempertahankan level psikologis $65.000 yang sempat ditembus di awal pekan. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: sinyal kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve dan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong investor ke mode defensif.
Pada Jumat (17/7/2026) sore waktu Indonesia, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $64.216, turun 0,9 persen dari penutupan sebelumnya. Di titik terendahnya, BTC sempat amblas ke $62.503 sebelum perlahan membaik ke $63.851 pada Sabtu pagi. Kapitalisasi pasar Bitcoin kini mencapai $1,28 triliun atau setara Rp22.966 triliun.
Altcoin ikut terseret. Ethereum melemah 2,2 persen ke $1.879,50, Solana tergerus 1,8 persen, XRP terkoreksi 1,5 persen. Hampir tidak ada yang selamat.
Data makroekonomi AS sebetulnya tidak sepenuhnya buruk. Inflasi konsumen (CPI) Juni tercatat turun ke 3,5 persen secara tahunan dari 4,2 persen pada Mei, dengan penurunan bulanan sebesar 0,4 persen, lebih dalam dari ekspektasi 0,2 persen dan terbesar sejak April 2020, terutama dipicu melemahnya harga energi. Klaim tunjangan pengangguran minggu lalu juga turun ke 208 ribu, di bawah estimasi 216 ribu. Sekilas, kombinasi ini seharusnya jadi angin segar bagi aset berisiko.
Tapi pasar tidak selalu berjalan lurus. Komentar pejabat The Fed yang bernada hawkish muncul tepat setelah data tersebut dirilis, dan seketika membalik narasi. Ekspektasi pemangkasan suku bunga yang sempat memanas langsung didinginkan. Investor kripto yang sudah terlanjur optimis harus kembali menghitung ulang.
Ketegangan AS-Iran memperkeruh situasi. Geopolitik yang memanas secara historis mendorong pelaku pasar mengunci keuntungan dari aset berisiko lebih dulu, dan kripto tidak terkecuali. Bak gayung bersambut, dua sentimen negatif itu menghantam pasar nyaris bersamaan.
CEO Indodax William Sutanto mengingatkan bahwa pergerakan harga aset kripto tidak bisa dibaca dari satu indikator saja. "Data inflasi merupakan salah satu indikator ekonomi yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter. Wajar apabila rilis data tersebut turut direspons oleh berbagai kelas aset, termasuk kripto. Namun, pergerakan harga tetap dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga tidak dapat disimpulkan hanya dari satu indikator ekonomi," kata William dalam keterangan resmi, Jumat (17/7/2026).
Sentimen jangka pendek memang tertekan. Tapi ada faktor yang membuat sebagian pelaku pasar belum angkat kaki sepenuhnya. Rancangan Undang-Undang ARMA yang sedang bergulir di AS, kalau benar disahkan, berpotensi memperlakukan Bitcoin sebagai cadangan strategis negara. Katalis institusional kelas berat, setidaknya itu klaim para pendukungnya. Para pemegang besar pun dilaporkan justru mengakumulasi BTC selama koreksi ini, sinyal bahwa uang besar belum menyerah, meski aksi ini juga menyimpan risiko tersendiri apabila mereka berbalik arah.
Ethereum punya agenda tersendiri. Menjelang ETH Genesis Day pada 30 Juli, komunitas global mulai meningkatkan atensinya terhadap ekosistem blockchain Ethereum. William menyebut momentum ini sebagai pengingat perjalanan ekosistem sejak diluncurkan pada 2015, mencakup smart contract, DeFi, hingga tokenisasi aset nyata (RWA). "ETH Genesis Day menjadi momen untuk melihat bagaimana ekosistem tersebut terus berkembang sebagai fondasi berbagai inovasi blockchain," ujarnya.
Pertanyaannya, apakah koreksi ini sekadar jeda teknikal sebelum BTC mencoba lagi angka $65.000, atau awal dari konsolidasi yang lebih panjang? Agaknya jawaban ada di tangan The Fed dan meja perundingan Washington-Teheran.