JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Dihantam Pernyataan Trump soal Iran, Sempa...

Finansial

Bitcoin Dihantam Pernyataan Trump soal Iran, Sempat Amblas ke $61.480

Pernyataan Trump soal berakhirnya gencatan senjata dengan Iran memicu aksi jual di pasar kripto. Bitcoin sempat merosot ke $61.480 sebelum memangkas sebagian kerugiannya.

Harga Bitcoin Hari Ini 7 Juli 2026, Naik Meski Sempat Anjlok

Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir langsung menghajar pasar kripto pada sesi perdagangan Rabu. Bitcoin sempat terjun ke kisaran US$61.480, sebelum memangkas sebagian kerugian dan diperdagangkan di sekitar US$62.180 di sesi sore New York. Koreksi hariannya menembus lebih dari 3%.

Sebelum sentimen geopolitik kembali memanas, Bitcoin sebetulnya sedang dalam jalur pemulihan. Mencatat kenaikan sekitar 6% sejak awal Juli, usai dihajar hampir 20% sepanjang Juni, yang jadi penurunan bulanan terburuk dalam empat tahun terakhir. Pada Selasa (7/7/2026), harga sempat menyentuh US$64.000. Resistensi teknis dan aksi ambil untung trader di dekat level US$65.800 menghentikan momentum itu sebelum pernyataan Trump benar-benar mengirimkan Bitcoin ke zona merah.

Mengutip data CoinMarketCap per Rabu (8/7/2026) pukul 08.40 WIB, Bitcoin berada di kisaran US$63.051 atau sekitar Rp1,13 miliar (kurs Rp17.980). Turun 1,23% dalam 24 jam, meski secara mingguan masih mengantongi kenaikan 7,31%. Kapitalisasi pasarnya tercatat US$1,26 triliun.

Mekanisme tekanannya, menurut Co-Founder Orbit Markets Caroline Mauron, bermula dari kekhawatiran inflasi. "Bitcoin sempat anjlok tak lama setelah komentar Trump, karena pasar khawatir akan kenaikan inflasi lanjutan akibat harga bahan bakar serta potensi kenaikan suku bunga untuk meredamnya," kata Mauron. Orbit Markets memperkirakan ada level support di kisaran US$61.500, namun volatilitas kemungkinan masih tinggi selama situasi geopolitik belum jelas arahnya.

Dampaknya menjalar ke mana-mana. Ether dan Solana ikut tergerus. Minyak mentah Brent melonjak hampir 6% ke US$78,55 per barel. Indeks MSCI Asia Pacific terkoreksi 1%, Nifty 50 India melemah 1,5%, dan S&P 500 amblas lebih dari 1%. Bukan sekadar kripto, ini gejolak makro.

Agaknya ada kabar baik yang tersembunyi di balik tekanan itu. Strategy Inc., perusahaan Michael Saylor yang jadi pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia, menjual Bitcoin senilai US$216 juta pada Senin tanpa benar-benar mengguncang pasar. Berbeda dari episode serupa sebelumnya yang memicu aksi jual berantai. Beda cerita kali ini.

"Fakta bahwa penjual terpaksa dengan volume sebesar itu tidak mengguncang pasar merupakan sinyal nyata yang patut diperhatikan," ungkap Account Executive Glassnode Sean Rose. Data dari perusahaan intelijen pasar itu menunjukkan investor jangka panjang justru kembali mengakumulasi, dengan pembelian mencapai sekitar 31.800 Bitcoin per hari sepanjang 20 Juni hingga 6 Juli.

Di sisi institusional, ETF spot Bitcoin di AS membukukan arus masuk lebih dari US$500 juta selama tiga hari berturut-turut, berbalik arah setelah investor menarik lebih dari US$4,5 miliar dari instrumen itu sepanjang Juni. Bitcoin juga menunjukkan korelasi kuat 80% dengan S&P 500, artinya selama sentimen risk-off mendominasi Wall Street, ruang gerak Bitcoin ke atas tetap terbatas. Pertanyaannya, berapa lama sentimen itu bertahan?

Bitcoin Risk Index versi Glassnode turun ke 0,56 dari level maksimum 1 di awal Juli. Sinyal bahwa tekanan jual spekulatif mulai reda. Indikator NUPL (Net Unrealized Profit/Loss) berada di 0,17, menandakan sebagian besar pemegang Bitcoin sudah tidak punya keuntungan besar yang menggoda untuk dicairkan. Potensi avalanche aksi ambil untung, kalau data ini bisa dipercaya, mengecil untuk sementara.

Satu angka tetap sulit diabaikan. Dibandingkan rekor tertinggi di atas US$126.000 yang dicapai Oktober tahun lalu, Bitcoin masih tergerus lebih dari 50%. Pemulihan sedang berjalan, tapi jalannya masih panjang dan terjal, terutama kalau Trump kembali melempar pernyataan mengejutkan soal Timur Tengah.