Satu level. Itulah yang memisahkan Bitcoin dari skenario penurunan 10% ke zona US$66.800, target yang terbentuk sejak pola head and shoulders breakdown pada 28 Mei lalu.
Per Senin (1/6/2026), Bitcoin diperdagangkan di US$73.630, turun 0,36%. Secara teknikal, posisi ini sudah berada di bawah neckline pola bearish di sekitar US$73.998. Yang masih menahan harga adalah level 0,618 Fibonacci di US$72.754. Selama harga tidak ditutup di bawahnya pada grafik 8 jam, penurunan lanjutan menuju US$71.310, US$69.470, dan akhirnya US$66.798 belum terkonfirmasi. Jarak ke level pemicu itu cuma sekitar 1% dari posisi sekarang.
Grafik saja tidak cukup menjelaskan situasinya. Volume jual yang sempat melonjak saat breakdown justru makin menipis setelahnya, dari sisi beli maupun jual. Ini bukan ciri penurunan yang agresif. Pasar lebih menyerupai zona abu-abu yang menunggu katalis, bukan sedang dalam mode panik.
Di balik ketenangan permukaan itu, holder jangka menengah hingga panjang justru diam-diam menambah posisi. Hodler Net Position Change mencatat kenaikan dari sekitar 38.056 BTC menjadi 40.309 BTC sejak 29 Mei, naik hampir 6%. Akumulasi, bukan distribusi. Open interest Bitcoin juga melorot dari US$34,45 miliar pada pertengahan Mei ke sekitar US$30,4 miliar, salah satu level terendah dalam beberapa minggu terakhir. Posisi spekulatif tipis, tapi funding rate sudah berbalik positif ke 0,002%. Agaknya ada optimisme kecil yang mulai merayap masuk.
Konteks makro tidak bisa diabaikan. Berdasarkan data Bloomberg, Bitcoin sudah tergerus 4,66% sepanjang Mei dan terkoreksi 16,84% sejak awal 2026. Ethereum bahkan lebih dalam: amblas 11,79% sebulan dan 32,78% sejak Januari. Investor memilih berlindung di emas dan instrumen rendah risiko, meninggalkan aset digital menanggung tekanan sendiri. Bukan pertama kali skenario ini terjadi.
"Setelah reli signifikan pada periode sebelumnya, pasar kripto mengalami fase konsolidasi dan profit taking yang cukup wajar," ujar Antony Kusuma, Vice President Indodax, kepada Kontan, Senin (1/6/2026). Ia menilai koreksi Ethereum yang lebih dalam dibanding Bitcoin mencerminkan selektivitas investor: dana mengalir ke aset dengan narasi paling kuat, dan saat ini Bitcoin menang telak di kategori itu berkat likuiditas besar, adopsi institusional, serta statusnya sebagai digital gold.
Ada perkembangan institusional yang layak dicermati. CME Group, bursa derivatif terbesar di dunia, mulai Minggu kemarin resmi membuka perdagangan futures dan opsi kripto selama 24 jam penuh, tujuh hari seminggu, melalui platform CME Globex. Langkah ini mempersempit jarak antara pasar derivatif teregulasi dengan pasar spot kripto yang memang tidak pernah tidur. Sepanjang 2025, CME membukukan volume nominal hampir US$3 triliun dari produk kriptonya, dan kini menambah kontrak berbasis XRP dan Solana di samping Bitcoin dan Ethereum.
Bagi investor institusi yang selama ini terbatas merespons gejolak akhir pekan atau peristiwa geopolitik mendadak, fleksibilitas ini bukan soal kecil. Bitcoin secara historis paling liar justru bergerak di luar jam pasar konvensional.
Antony memproyeksikan Bitcoin berpotensi bergerak di kisaran US$65.000 hingga US$90.000 pada kuartal III-2026, dengan katalis utama berupa keterbatasan pasokan pasca-halving dan adopsi institusional yang terus menguat. Ethereum diperkirakan berada di rentang US$1.800 hingga US$3.000. Rentang yang lebar, cerminan pasar yang memang belum bisa dibaca.
Untuk membalikkan bias bearish jangka pendek, Bitcoin perlu merebut kembali US$74.783, dilanjutkan US$76.039 dan US$78.068. Pertanyaannya: dari mana pemicunya datang? Tanpa katalis, US$72.754 tetap jadi garis batas yang paling dinantikan pelaku pasar pekan ini.