KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin di Persimpangan: Volatilitas Terendah Satu...

Finansial

Bitcoin di Persimpangan: Volatilitas Terendah Satu Dekade, Pasar Menahan Napas

Bitcoin bergerak dalam rentang sempit US$65.900-US$66.900 di tengah arus masuk ETF enam hari beruntun senilai US$930 juta, sementara volatilitas turun ke level terendah sejak 2016 dan pasar menunggu hasil laporan keuangan Alphabet serta keputusan FOMC.

Inflasi AS Reda, Bitcoin Bertahan di Atas US$ 66.000, Ini Kata Tokocrypto

Angka yang paradoks: arus masuk ETF Bitcoin terkuat dalam berbulan-bulan, tapi harga justru nyaris tak bergerak.

Selama enam hari berturut-turut hingga Selasa (22/7/2026), ETF Bitcoin spot di pasar AS menyedot masuk US$930 juta, dengan tambahan US$203 juta pada hari terakhir. Rentetan terpanjang sejak April. Total aset kelolaan (AUM) ETF Bitcoin kini mendekati US$81 miliar. Pemulihan yang konstruktif, memang, tapi kalau dilihat lebih jeli, US$930 juta dalam enam hari itu baru menutup sekitar 37% dari US$2,5 miliar yang kabur dalam delapan hari arus keluar di akhir Juni.

Sementara dana institusional pelan-pelan kembali masuk, harga Bitcoin justru terjebak dalam limbo. Rabu (22/7), Bitcoin sempat menyentuh US$66.900, tertinggi sejak 16 Juni, sebelum langsung berbalik dan tergelincir ke US$65.900. Kamis pagi (23/7) pukul 06.12 WIB, koin ini tercatat di US$66.001,34 per koin atau sekitar Rp1,18 miliar (kurs Rp17.908 per dolar AS), turun 0,37% dalam 24 jam terakhir.

Yang bikin kondisi ini menarik bukan soal arah harganya, melainkan apa yang tersembunyi di baliknya. Kontributor CryptoQuant Axel Adler Jr mencatat bahwa volatilitas terealisasi Bitcoin selama 30 hari anjlok ke 28,3, turun dari 41,6 pada 25 Juni. Level itu menempatkan Bitcoin pada 8% terendah sejak 2016, artinya sekitar 92% hari perdagangan dalam hampir satu dekade terakhir mencatat volatilitas lebih tinggi dibanding kondisi saat ini. "Kondisi pasar yang sangat tenang seperti ini biasanya tidak berlangsung lama, terutama setelah harga mulai pulih secara bertahap," ujar Adler. Ketika ketenangan ini pecah, dan ia hampir pasti akan pecah, pergerakan yang terjadi bisa mengejutkan trader yang terlena dengan posisi berganda tinggi.

Sedikit melegakan: kenaikan harga belakangan ini belum diikuti lonjakan open interest di pasar derivatif. Risiko likuidasi massal dalam jangka pendek masih terbatas. Tapi itu bisa berubah cepat.

Sentimen makro yang mewarnai pergerakan Bitcoin minggu ini tidak datang dari satu arah. Data inflasi AS Juni 2026 yang dirilis BLS sempat jadi angin segar, CPI tahunan melambat ke 3,5%, di bawah estimasi pasar 3,8% dan turun dari 4,2% bulan sebelumnya. Inflasi inti juga melandai ke 2,6%, lebih rendah dari proyeksi 2,8%. Respons awal Bitcoin positif, tapi sesaat kemudian penguatan dolar AS, tekanan pada aset berisiko, dan eskalasi ketegangan geopolitik di Hormuz membuyarkan momen itu.

Minyak WTI menembus US$85 per barel untuk pertama kalinya sejak 12 Juni. Bukan kebetulan. Lonjakan ini menghidupkan kembali kecemasan inflasi di atas hasil CPI Juni, mempersulit The Fed untuk memberi sinyal dovish pada pertemuan 28-29 Juli, dan menguras selera risiko dari saham teknologi maupun kripto. Emas merespons dengan melompat ke US$4.118, perak naik 1,2%. Pasar obligasi ramai. Kripto menunggu.

Yang paling ditunggu justru bukan data ekonomi, melainkan laporan keuangan Alphabet yang dirilis Rabu malam waktu AS. Koneksinya ke Bitcoin agaknya tidak langsung, tapi nyata: sepanjang Juli, Bitcoin bergerak seiring perdagangan saham chip AI. Alphabet pada kuartal lalu mengumumkan rencana belanja modal hingga US$190 miliar tahun ini untuk infrastruktur AI. Jika laporan ini mengonfirmasi bahwa investasi tersebut menghasilkan imbal hasil yang membenarkannya, kepercayaan pada siklus belanja AI akan terjaga, termasuk dari Microsoft, Amazon, dan Meta. Setelah Alphabet, masih ada deretan laporan big tech lain, lalu puncaknya keputusan FOMC pada 29 Juli.

CEO Tokocrypto Calvin Kizana menempatkan volatilitas jangka pendek ini dalam konteks yang lebih lebar. "Data inflasi AS yang lebih rendah sempat memberikan sentimen positif bagi Bitcoin. Namun, pasar masih mencermati penguatan dolar AS, tekanan pada aset berisiko, serta perkembangan geopolitik yang dapat kembali memengaruhi ekspektasi inflasi ke depan," jelasnya. Calvin menegaskan bahwa gejolak harga jangka pendek tidak mengubah arah besar industri kripto. "Prioritas investor dalam kondisi pasar seperti ini bukan reaksi emosional, melainkan disiplin, manajemen risiko, dan pandangan jangka panjang," tambahnya.

Secara teknikal, Daniela Hathorn dari Capital.com mengidentifikasi US$63.000 sebagai lantai struktural yang kritis. Bertahan di atas level itu mengindikasikan stabilisasi; penembusan di bawahnya bisa memicu gelombang profit-taking berikutnya. Di sisi atas, zona US$65.000-US$66.000 menjadi band konfirmasi momentum, dan US$67.250 adalah puncak yang perlu dilampaui agar pemulihan bisa dianggap struktural, bukan sekadar taktis. Dalam skenario optimistis, Bitcoin berpotensi menjajal US$72.000-US$72.700. Kalau gagal, koreksi ke US$61.800 atau bahkan US$58.500 adalah skenario yang harus diperhitungkan. Tidak main-main.

Bitcoin saat ini berdiri persis di pertemuan tiga kekuatan yang belum tuntas: konflik geopolitik yang menjaga minyak tetap panas, musim laporan keuangan big tech yang menentukan selera risiko global, dan FOMC yang bisa membalik peta suku bunga. Pertanyaannya, berapa lama ketenangan ini bertahan? Entah kebetulan atau tidak, kondisi pasar paling sunyi dalam satu dekade ini datang persis di momen yang paling penuh ketidakpastian.