Harga Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$79.000 hingga US$81.000, atau sekitar Rp 1,4 miliar per koin. Angka itu, agaknya, hanya babak pembuka dari narasi yang jauh lebih besar.
Bernstein, firma riset investasi yang dipimpin analis Gautam Chhugani, memetakan tiga titik dalam skenario dasar mereka: Bitcoin kembali ke US$125.000 (sekitar Rp 2,21 miliar) menjelang akhir 2026, naik ke US$150.000 (Rp 2,66 miliar) pada pertengahan 2027, lalu melesat ke US$300.000 (Rp 5,31 miliar) di puncak siklus 2029. Itu skenario konservatif. Kalau kondisi makro benar-benar berbalik dan investor institusional masuk agresif, Bernstein mematok US$200.000 pada 2027 dan US$500.000 pada 2029, atau sekitar Rp 8,85 miliar per koin.
Logika di balik proyeksi ini bukan sekadar analisis teknikal. Bernstein berargumen bahwa era 40 tahun penurunan suku bunga telah benar-benar berakhir, dan pemerintah di seluruh dunia kini menghadapi biaya utang yang terus membengkak. Utang pemerintah AS sudah menyentuh US$40 triliun. "Kenaikan imbal hasil menciptakan siklus yang saling memperkuat berupa peningkatan beban bunga, defisit fiskal yang lebih besar, dan kebutuhan pinjaman yang meningkat, sehingga keberlanjutan utang menjadi tantangan kebijakan yang semakin besar," tulis para analis Bernstein dalam catatan kepada klien.
Dengan tekanan seperti itu, Bernstein melihat pembuat kebijakan akan lebih memilih jalur pelemahan nilai mata uang (currency debasement) ketimbang menanggung tekanan fiskal secara frontal. Bitcoin, dengan pasokan yang terbatas dan tidak bisa dicetak sembarangan, diposisikan sebagai penerima manfaat utama dari tren ini.
Sinyal paling konkret terlihat di pasar ETF. Eric Balchunas, analis senior ETF Bloomberg, mencatat bahwa "debasement trade is starting to replace AI mania": ETF Bitcoin spot BlackRock (IBIT) dan ETF emas SPDR (GLD) kembali masuk ke daftar 10 ETF paling aktif diperdagangkan, menggeser ETF semikonduktor yang sebelumnya mendominasi. Bukan kebetulan, kalau kata para veteran.
Dari sisi teknikal, grafik mingguan Bitcoin memperlihatkan tanda-tanda pembalikan. Setelah mencetak rangkaian lower high dan lower low sejak rekor US$126.200, Bitcoin mulai membentuk higher low. Konfirmasi butuh penutupan mingguan di atas US$82.842. Resistance terdekat ada di US$83.917. RSI mingguan di sekitar 60 masih menyisakan ruang naik, meski RSI harian sempat menyentuh 78 dan memunculkan bearish divergence awal yang patut dicermati.
Untuk skenario paling ekstrem, Ricardo Salinas Pliego sudah punya kalkulasinya sendiri. Miliarder Meksiko pendiri Grupo Salinas ini, yang menyimpan 70-80 persen portofolio likuidnya dalam aset terkait Bitcoin, menunjuk nilai pasar emas sebagai patokan. Jika Bitcoin berhasil menyamai kapitalisasi pasar emas, harga per koin harus menyentuh US$1,86 juta, atau sekitar Rp 32,9 miliar. "Jika bitcoin berhasil menyamai nilai kapitalisasi pasar emas, harganya harus naik ke US$1,86 juta per bitcoin. BTC = US$1.860.000. Ini masih sangat awal," tulisnya di X. Pada valuasi Bitcoin saat ini sekitar US$1,56 triliun, dibandingkan pasar emas yang jauh lebih besar, kalkulasi Salinas bukan angka asal lempar.
Tapi kondisi jangka pendek belum berpihak pada skenario-skenario besar itu. Data CryptoQuant menunjukkan periode arus keluar stablecoin selama 113 hari baru saja berakhir, sinyal bahwa tekanan likuiditas mulai mereda. Sayangnya, netflow positif stablecoin langsung menyusut 51 persen dalam dua hari. Rapuh. Indikator apparent demand 30 hari kembali negatif, sementara short-term holder masih aktif merealisasikan keuntungan. Permintaan riil terhadap BTC belum terkonfirmasi.
Satu faktor makro menarik perhatian: M2 Amerika Serikat mencapai rekor US$23,218 triliun pada Juli 2026 berdasarkan data FRED. Lebih banyak uang dalam sistem secara teori memberi bahan bakar bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Tapi dampaknya tidak otomatis. Suku bunga, sentimen risiko, dan arus modal masih menentukan ke mana likuiditas itu mengalir.
Channel pertumbuhan jangka panjang yang dianalisis CryptoJack memang membuka ruang menuju US$500.000 dalam beberapa tahun mendatang, tapi syaratnya satu: pola historis tidak boleh patah secara fundamental. Sementara itu, sekitar 59 persen pasokan Bitcoin tidak berpindah tangan dalam 12 bulan terakhir. Angka yang, entah kebetulan atau tidak, justru memperkuat karakternya sebagai aset simpan nilai jangka panjang.
Bagi investor ritel yang sedang menimbang masuk atau menambah posisi, gap antara harga sekarang dan target-target Bernstein, apalagi proyeksi Salinas, memang menggoda. Tapi konfirmasi teknikal belum tuntas, dan permintaan jangka pendek masih rapuh. Jarak antara narasi besar dan realita pasar hari ini masih perlu dijembatani.