Angka inflasi Amerika Serikat bulan Juni 2026 turun lebih dalam dari perkiraan pasar, dan aset kripto langsung merespons.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat Consumer Price Index (CPI) turun 0,4% secara bulanan, dua kali lipat lebih dalam dari ekspektasi konsensus yang memproyeksikan penurunan 0,2%. Secara tahunan, inflasi melandai dari 4,2% di Mei menjadi 3,5% di Juni, penurunan terbesar sejak April 2020. Biang keroknya: harga energi yang amblas cukup dalam.
Bitcoin (BTC) bergerak ke kisaran US$64.600 atau sekitar Rp1,05 miliar pada perdagangan Kamis (16/7), memulihkan diri dan mendekat ke ambang psikologis US$65.000. Sebelumnya BTC sempat tertekan dua sentimen negatif: kekhawatiran bahwa narasi AI mulai menggeser selera pasar terhadap aset teknologi, dan keraguan soal nasib legislasi regulasi kripto di Senat AS. Ethereum (ETH) bertengger di sekitar US$1.900, setara Rp30,9 juta.
CEO Indodax William Sutanto mengatakan wajar apabila data inflasi turut menggerakkan aset kripto, karena pelaku pasar memang mencermati angka ini sebagai indikator arah kebijakan moneter Fed. "Data inflasi adalah salah satu indikator ekonomi yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter. Wajar apabila rilis data tersebut turut direspons oleh berbagai kelas aset, termasuk kripto. Namun, pergerakan harga tetap dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga tidak dapat disimpulkan hanya dari satu indikator ekonomi," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (18/7).
Inflasi di bawah ekspektasi membuka ruang tafsir bahwa Fed punya alasan lebih kuat untuk mempertahankan, bahkan memangkas, suku bunga lebih cepat. Bagi kripto, skenario bunga rendah secara historis bak angin segar, karena biaya peluang memegang aset berisiko tinggi menjadi lebih kecil. Pasar tahu pola ini. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bertahan sebelum sentimen berbalik?
Ethereum punya cerita sendiri yang terpisah dari dinamika makro. William mengingatkan bahwa 30 Juli tiap tahunnya diperingati sebagai ETH Genesis Day, momen ketika jaringan Ethereum pertama kali diluncurkan pada 2015. Jelang tanggal itu, perhatian komunitas global terhadap ekosistem Ethereum cenderung menghangat. "ETH Genesis Day menjadi momen untuk melihat bagaimana ekosistem tersebut terus berkembang sebagai fondasi inovasi blockchain, mulai dari smart contract, DeFi, hingga tokenisasi aset nyata," jelasnya.
Apakah momentum kalender ini cukup untuk mengangkat harga ETH? Agaknya pasar masih menimbang. Ekosistem Ethereum makin luas, tapi harga ETH sendiri masih jauh dari puncak siklus sebelumnya, dan kompetisi dari layer-1 lain belum mereda. Kalau data ini bisa dijadikan patokan, efek Genesis Day biasanya lebih terasa di sentimen komunitas ketimbang di grafik harga.
Satu hal yang perlu diingat investor ritel: euforia data makro seringkali pendek umurnya di pasar kripto. Geopolitik yang belum tuntas, tarik-ulur regulasi di AS, dan sentimen pasar yang bisa berbalik dalam hitungan jam adalah faktor yang sama nyatanya dengan angka CPI. William sendiri mengingatkan agar keputusan investasi tidak semata dilandasi sentimen jangka pendek. Nasihat lama, tapi selalu relevan.