Rupiah menyentuh Rp18.171 per dolar AS pada 9 Juni 2026, level terlemah sejak krisis finansial 1998. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu alarm.
Bank Indonesia merespons dengan menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pertengahan Juni, sebuah langkah yang, menurut Rijadh Djatu Winardi, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, tergolong tidak biasa. Perubahan suku bunga lazimnya lahir dari RDG bulanan, bukan forum mingguan. Bahwa BI memilih jalur ekspres menunjukkan betapa mendesaknya situasi ketika itu.
Secara kumulatif, kenaikan BI Rate kini sudah mencapai 100 basis poin, dan rupiah masih tertekan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Obat sudah diminum berkali-kali. Demamnya belum juga turun.
Rijadh menilai kondisi ini mencerminkan pergeseran mendasar di lanskap moneter global. Setahun lalu, bank-bank sentral utama masih kompak memangkas bunga. Kini masing-masing negara berjalan sendiri-sendiri, ditekan oleh dinamika geopolitik dan inflasi yang berbeda-beda. Arah risiko suku bunga global, ia tegaskan, kini asimetris ke atas, alias lebih hawkish. "Itulah lingkungan eksternal yang memaksa BI ikut mengetatkan suku bunga, meski ekonomi domestik sedang melambat," kata Rijadh.
Di sinilah dilema sesungguhnya muncul. Ruang untuk kembali menaikkan BI Rate makin sempit, karena konsekuensinya tidak lagi hanya soal pertumbuhan yang melambat. Biaya dana perbankan mulai melonjak, dan ancaman kredit macet mulai membayangi industri. Dua ancaman yang, kalau dibiarkan, bisa jauh lebih mahal dari pelemahan rupiah itu sendiri.
Arus modal keluar terus deras. Investor asing mencetak net sell di pasar saham Indonesia senilai Rp73,60 triliun sepanjang semester I 2026. IHSG terkoreksi sekitar 35 persen dalam paruh pertama tahun ini, ditutup di kisaran 5.643 pada akhir Juni. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun sempat melonjak ke 7,48 persen pada 10 Juni sebelum akhirnya mereda. Rijadh membaca ini sebagai kombinasi repricing valuasi akibat discount rate yang lebih tinggi dan rotasi investor ke instrumen pendapatan tetap, yang kini menawarkan yield jauh lebih kompetitif dibanding ekspektasi return saham.
Tekanannya tidak berhenti di lantai bursa. BBM nonsubsidi naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, inflasi Juni merayap ke 3,34 persen, dan kelas menengah, kelompok yang selama ini jadi tulang punggung konsumsi domestik, mulai terjepit dari segala arah. Bunga simpanan memang ikut naik, tapi manfaatnya lebih banyak jatuh ke deposan kakap, bukan ke rumah tangga yang hidup dari gaji bulanan.
Apakah BI seharusnya tidak menaikkan bunga? Rijadh punya jawabannya. "Suku bunga yang tinggi merupakan beban yang terlihat, sementara rupiah yang kehilangan jangkar adalah ongkos yang jauh lebih besar jika suku bunga tidak dinaikkan," katanya. Depresiasi yang tak dikendalikan akan mendorong harga barang impor, terutama pangan dan energi, dan itu menyentuh semua lapisan masyarakat tanpa pandang bulu.
Kredibilitas fiskal pemerintah juga masuk dalam kalkulasi. Penerbitan obligasi internasional senilai 1,5 miliar dolar AS belakangan mendapat permintaan yang kuat, sinyal bahwa selera investor terhadap aset Indonesia belum padam sepenuhnya. Tapi pasar, kata Rijadh, juga memantau isu tata kelola dan transparansi, terutama soal perlindungan hukum bagi pembeli obligasi tersebut. "Justru karena minat investor masih ada, pemerintah punya kesempatan memperkuat tata kelola sekarang, sebelum kekhawatiran itu berubah menjadi diskon permanen pada aset Indonesia," tegasnya.
Dari sisi pengeluaran, Rijadh mendorong agar bantalan sosial difokuskan pada kelompok paling rentan, bukan stimulus serba umum yang menguras fiskal tanpa jaminan efektivitas. Defisit perdagangan pertama Indonesia dalam enam tahun terakhir juga jadi penanda bahwa ketahanan sektor eksternal mulai retak. Akselerasi reformasi untuk menggaet FDI dan mendorong ekspor bernilai tambah tinggi, dalam kondisi ini, bukan lagi pilihan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah BI akan kembali menaikkan bunga, tapi seberapa lama sektor perbankan dan rumah tangga bisa menanggung beban suku bunga tinggi sebelum yang retak bukan cuma nilai tukarnya.