SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BI Naikkan Suku Bunga 50 Bps ke 5,25%, Rupiah Jadi...

Bisnis

BI Naikkan Suku Bunga 50 Bps ke 5,25%, Rupiah Jadi Taruhan

Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam RDG Mei 2026, keputusan paling agresif dalam beberapa tahun terakhir untuk membendung pelemahan rupiah yang sudah menyentuh rekor historis Rp17.719 per dolar AS.

Rupiah Terpuruk Dalam, BI Kerek Naik Suku Bunga ke 5,25 Persen

Rupiah sudah di Rp17.719 per dolar. Bank Indonesia akhirnya angkat tangan, eh, angkat suku bunga, sekaligus.

Dalam Rapat Dewan Gubernur periode Mei 2026, Rabu (20/5), BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kenaikan pertama setelah delapan bulan bertahan di level 4,75 persen, sekaligus membalik seluruh siklus pemangkasan 150 bps yang sudah dijalankan sepanjang September 2024 hingga September 2025. Deposit facility ikut naik ke 4,25 persen, lending facility ke 6 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan keputusan ini bukan sekadar reaksi panik. "Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, serta sebagai langkah pre-emptive guna menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 1,5-3,5 persen," ujarnya dalam konferensi pers daring.

Konteks globalnya memang tidak ringan. Fed Funds Rate diperkirakan tidak akan turun hingga akhir 2026, dengan potensi kenaikan di 2027. Yield US Treasury merangkak naik seiring defisit fiskal Amerika yang terus membengkak. Hasilnya bisa ditebak: capital outflow dari emerging markets, termasuk Indonesia, ke aset safe haven. Rupiah terseret arus itu, tergerus hampir 6 persen secara year-to-date hanya dalam hitungan bulan.

Cadangan devisa pun ikut terkuras. Sepanjang Januari-April 2026, posisinya susut sekitar 10 miliar dolar AS menjadi 146,2 miliar dolar AS, sebagian akibat intervensi valas yang terus-menerus dilakukan BI di pasar NDF offshore maupun transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.

Teuku Riefky dari LPEM-FEB UI menilai langkah BI sudah tepat arah, walau ia sebelumnya memperkirakan kenaikan minimal 25 bps. Riefky mengakui bahwa instrumen moneter saja tidak cukup karena tekanan terhadap rupiah juga bersumber dari sisi fiskal dan struktural. "Meskipun kenaikan suku bunga kebijakan mungkin akan memperlambat pertumbuhan kredit, prioritas utama Bank Indonesia saat ini seharusnya adalah stabilisasi rupiah," katanya.

Satu sudut yang agaknya luput dari radar banyak investor ritel. Kenaikan BI Rate ini langsung mengubah kalkulasi imbal hasil Sukuk Tabungan seri ST016 yang masih dalam masa penawaran hingga 3 Juni 2026. Dengan skema kupon floating with floor, ST016 tenor 2 tahun (ST016-T2) menyesuaikan kuponnya dari 6,05 persen menjadi 6,55 persen, sementara tenor 4 tahun (ST016-T4) bergerak dari 6,25 persen ke 6,75 persen. Penyesuaian ini diperkirakan berlaku mulai 11 Agustus 2026, dengan pembayaran kupon perdana di level baru mulai 10 September 2026.

Setelah dipotong pajak 10 persen, imbal hasil bersih ST016-T4 berpotensi menyentuh sekitar 6,075 persen per tahun. Bandingkan dengan deposito bank yang pajaknya 20 persen dan imbal hasil bersihnya hanya sekitar 3,2 persen. Selisihnya hampir 2,875 persen per tahun. Untuk investasi Rp100 juta, itu artinya tambahan sekitar Rp239 ribu per bulan dibanding memarkir dana di deposito. Tidak main-main.

BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih di kisaran 4,9-5,7 persen. Perry optimistis rupiah akan stabil dan cenderung menguat, ditopang imbal hasil yang kini lebih kompetitif dan fundamental ekonomi domestik yang relatif terjaga. Setidaknya itu klaimnya. Pasar punya beberapa pekan untuk membuktikan, terutama kalau konflik Timur Tengah makin memanas dan yield Treasury terus melejit.

Bagi pemegang saham-saham rate-sensitive, khususnya sektor properti dan perbankan segmen kredit konsumer, kenaikan 50 bps ini bukan kabar yang bisa diabaikan begitu saja. Tapi bagi investor yang sedang mencari tempat parkir dana aman dan likuiditasnya tidak terlalu mendesak, ST016-T4 tiba-tiba terlihat jauh lebih seksi dari sebelumnya.