MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Beras Masih Mencekik, Inflasi Mei 2026 Terkerek da...

Ekonomi

Beras Masih Mencekik, Inflasi Mei 2026 Terkerek dari Hulu ke Hilir

BPS mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan dan 3,08% tahunan, dengan beras kembali jadi komoditas penyumbang utama di tengah kenaikan harga perdagangan besar yang mencapai 5,76% YoY.

BPS: Beras Turut Picu Inflasi Mei 2026

Harga beras belum juga memberi jeda. Sepanjang Mei 2026, komoditas ini kembali menekan daya beli rumah tangga setelah mencatat kenaikan di seluruh rantai distribusi, dari level penggilingan hingga ke tangan konsumen di pasar eceran.

Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata harga beras di tingkat penggilingan menyentuh Rp13.765 per kilogram pada Mei 2026, naik 0,58% dibanding April dan melonjak 8,10% dibanding Mei tahun lalu. Di level grosir, angkanya Rp14.574 per kilogram, tumbuh 0,68% secara bulanan dan 6,11% secara tahunan. Di eceran, konsumen harus merogoh kocek Rp15.358 per kilogram, naik 0,38% bulanan dan 4,55% dibanding Mei 2025. Bukan angka yang bisa diabaikan.

Kenaikan ini turut mewarnai inflasi nasional: 0,28% secara bulanan dan 3,08% tahunan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar dengan andil 0,12% untuk inflasi bulanan dan 1,43% untuk inflasi tahunan. Selain beras, cabai merah, minyak goreng, bawang merah, dan tomat masuk daftar penyumbang inflasi bulanan. Secara tahunan, tekanan tambahan datang dari ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, Sigaret Kretek Mesin, dan cabai merah.

Dua tahun. Sejak lonjakan pertama pada 2024, harga beras di semua level distribusi belum juga turun ke titik yang nyaman. Agaknya ini bukan sekadar fluktuasi musiman.

Pergerakan harga tidak berhenti di sektor pangan saja. Indeks Harga Perdagangan Besar tercatat tumbuh 5,76% secara tahunan pada Mei 2026, dengan kenaikan bulanan 1,43%. Sepanjang Januari hingga Mei, IHPB sudah akumulasi naik 4,07%. Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menyebut kenaikan tertinggi datang dari kelompok bijih besi dan mineral, listrik, gas, dan air yang melesat 8,92% dibanding Mei 2025. Komoditas pendorong lainnya: solar industri, elpiji non-subsidi, solar transportasi, hingga tandan buah segar kelapa sawit.

Sektor konstruksi pun kena tampar. IHPB kelompok bangunan melonjak 7,39% secara tahunan, didorong kenaikan harga aspal, pasir, batu pecahan, dan baja tulangan. Pudji, dalam taklimat media hibrid Selasa 2 Juni 2026, mengatakan kenaikan ini menunjukkan masih tingginya biaya pembangunan infrastruktur dan properti, yang berpotensi memengaruhi biaya proyek konstruksi di berbagai daerah.

Pertanyaannya, kalau harga beras naik sekonsisten ini di rantai distribusi, apakah petani di ujung hulu juga ikut menikmati? Kenaikan harga di level penggilingan dan grosir tidak otomatis berarti petani panen cuan. Margin antara harga gabah dan harga eceran yang terus menganga justru mengisyaratkan keuntungan lebih banyak terserap di tengah rantai, bukan di ladang. Setidaknya, itu yang dibaca dari data.

Energi, pangan, konstruksi, semuanya bergerak naik bersamaan. Ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga inflasi dalam target tidak semakin lapang.