Rp393,79 triliun. Itu angka yang dibawa Menteri Perdagangan Budi Santoso ke hadapan Komisi VI DPR RI dalam Rapat Kerja pembahasan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat APBN Tahun Anggaran 2025, Kamis (16/7/2026). Angka dari Program Belanja Nasional 2025, hasil kolaborasi Kemendag dengan puluhan asosiasi usaha, yang kata Budi bukan sekadar statistik. "Angka ini tentu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran riil bahwa konsumsi masyarakat Indonesia masih tumbuh di pasar dalam negeri yang terus bergerak," ujar Budi dalam rapat yang diikutinya secara daring dari Jakarta.
Di balik angka besar itu, sebanyak 38.356 UMKM mendapat pendampingan Kemendag lewat tiga jalur. Pertama, peningkatan daya saing untuk 34.746 pelaku usaha. Kedua, perluasan akses pasar lewat pameran dan kemitraan untuk 2.222 UMKM. Ketiga, kampanye "Kamis Pakai Lokal" yang menyentuh 1.389 usaha agar tidak kalah di kandang sendiri.
Sisi ekspor pun bergerak. Lewat program UMKM Bisa Ekspor, Kemendag menggelar 622 kegiatan business matching sepanjang 2025, melibatkan 1.217 pelaku usaha dengan total 1.962 keikutsertaan. Hasilnya: potensi transaksi US$134,87 juta. Produk yang paling laku ditawar mitra asing meliputi hasil perikanan, furnitur, kopi, rempah-rempah, hingga rumput laut.
Trade Expo Indonesia ke-40 turut menyumbang transaksi senilai US$22,8 miliar. Kemendag juga menyelamatkan potensi akses ekspor Rp7,34 triliun setelah memenangkan sejumlah sengketa di WTO, mencakup biodiesel, baja nirkarat, dan produk sawit.
Tapi dari semua yang dipaparkan Budi, satu agenda yang agaknya paling mendesak adalah percepatan ratifikasi Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (IP-CEPA). Budi meminta DPR segera merampungkan prosesnya agar pemerintah bisa menerbitkan peraturan presiden sebagai landasan hukum pelaksanaan perjanjian.
Peru, kata Budi, bukan sekadar pasar 33 juta kepala. Negara itu pintu masuk ke kawasan Pacific Alliance dan CPTPP yang populasinya menyentuh 649 juta jiwa. "Percepatan ratifikasi dan implementasi IP-CEPA menjadi krusial agar potensi manfaat ekonomi segera dirasakan," tegasnya.
Data perdagangan bilateral cukup untuk bikin optimistis. Ekspor Indonesia ke Peru pada 2025 tercatat US$462,97 juta, impor US$104,4 juta, surplus US$358,54 juta. Tren pertumbuhan total perdagangan selama 2021-2025 solid di angka 5,5% per tahun, ekspor tumbuh rata-rata 4,6%. Sepanjang Januari-Mei 2026, ekspor sudah mencapai US$225,77 juta dengan surplus US$187,53 juta, tempo yang tidak pelan.
Perjanjian yang diteken 11 Agustus 2025 itu memberi Indonesia tarif preferensi untuk 7.257 pos tarif, setara 90,68% dari total pos tarif Peru. Sebaliknya, Peru mendapat akses preferensial untuk 10.531 pos tarif Indonesia, atau sekitar 92,26% dari keseluruhan. Produk yang paling diuntungkan: kendaraan dan komponennya, minyak nabati, tekstil, produk kulit, pakaian jadi.
Jika IP-CEPA berjalan penuh, pemerintah memproyeksikan ekspor ke Peru bisa melonjak hingga US$745 juta pada 2045. Dampak ke PDB riil memang tipis, cuma 0,0084%, tapi untuk pelaku UMKM yang membidik furnitur ringan, komponen otomotif, kemasan, atau makanan olahan, peluang ini konkret. Bisa dieksekusi sekarang, kalau saja ratifikasi tidak tersangkut di Senayan.
Pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat DPR bergerak?