Tiga puluh tujuh saham baru resmi masuk daftar high shareholding concentration (HSC) setelah Bursa Efek Indonesia memperbarui metodologi penilaiannya, kini dengan menambahkan indikator price-impact ratio khusus untuk emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Bukan sekadar pembaruan teknis. Bagi emiten yang terseret masuk, imbasnya cukup konkret: tertutup dari indeks lokal maupun global, sepi dari fund manager berbasis indeks, dan harga saham yang rentan digerakkan segelintir pelaku.
Bagi sembilan saham yang lebih dulu masuk daftar HSC sejak April-Mei 2026, yakni ROCK, IFSH, SOTS, AGII, BREN, MGLV, DSSA, RLCO, dan WBSA, jalan keluar dari status ini terbukti tidak mudah. Mayoritas belum menunjukkan perubahan komposisi pemegang saham yang berarti.
Ambil contoh PT Rockcheck Steel Group Tbk (ROCK). Secara kasat mata free float-nya 20 persen, tapi per catatan IDX Mei 2026, pemegang saham tertentu secara agregat menggenggam 99,85 persen saham perseroan. Likuiditasnya? Bid-offer di bawah 15 lot per lantai harga. Tipis sekali. Perubahan yang tercatat sejak masuk daftar hanya penurunan sekitar 3 persen dari agregat pemegang saham di atas 1 persen menjadi 96,05 persen, setelah PT Karimun Jawa Pratama melepas 3,75 persen dan ada aksi tukar saham antara PT Golden Flower Global Resources dengan LGT Bank AG.
Nasib serupa menimpa IFSH, SOTS, AGII, dan MGLV. Bid-offer keempatnya rata-rata di bawah 100 lot per lantai harga, frekuensi transaksi di bawah 10 kali. IFSH baru melepas 0,1 persen saham treasury, sedangkan SOTS dan AGII praktis tak bergerak sama sekali sejak status HSC disematkan.
Satu nama yang paling menarik dicermati adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Emiten energi terbarukan milik grup Prajogo ini sudah didepak dari indeks MSCI dalam rebalancing Mei 2026, persis setelah 97,31 persen sahamnya tercatat dimiliki sejumlah pemegang saham tertentu. Kabar baiknya, BREN paling aktif berbenah: porsi pemegang saham di atas 1 persen sudah turun 0,56 persen menjadi 93,52 persen. Kepemilikan investor domestik perorangan naik tipis dari 0,26 persen ke 0,37 persen. Masih jauh, kalau mau jujur.
DSSA justru menarik dari sisi lain. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk ini punya bid-offer hingga rata-rata 100.000 lot per lantai harga dengan frekuensi 300 kali, angka yang tidak lazim untuk saham kategori HSC. Ini agaknya efek dari dua stock split jumbo: 1:10 pada 2024 dan 1:25 pada 2025. Likuiditas permukaan tinggi, tapi 95,76 persen sahamnya tetap terkonsentrasi. Cermin retak dari reformasi yang belum tuntas.
Dua pendatang baru dari kelompok IPO juga terseret masuk. RLCO yang baru melantai pada 2025 kini punya 95,35 persen saham di tangan pemegang saham tertentu. Ironisnya, porsi itu malah merayap naik ke 94,54 persen dari posisi sebelumnya 95,48 persen, artinya konsentrasi kepemilikan justru mengendur tipis secara nominal tapi belum signifikan. WBSA yang baru IPO April 2026 mencatat 95,82 persen kepemilikan terkonsentrasi, dengan Zico Trust Ltd. sempat melepas 3,74 persen lalu membeli kembali 1,03 persen. Ada potensi tekanan tambahan saat lock-up pemegang saham pre-IPO di bawah 5 persen dibuka.
Revisi metodologi BEI disambut positif oleh sebagian pelaku pasar. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penambahan indikator price-impact ratio membuat penilaian HSC lebih akurat. "Apalagi kemarin ada penambahan indikator baru, yaitu price impact ratio, sehingga penilaian HSC menjadi lebih akurat," ujarnya kepada Kontan, Kamis (16/7/2026). Soal kepercayaan pasar, ia menambahkan, "Dampaknya kepercayaan bisa meningkat, tapi bertahap seiring dengan kebijakan selangkah demi selangkah yang harus dilakukan oleh pelaku pasar dan investor."
Nico memproyeksikan IHSG berpeluang menembus 7.000 pada akhir 2026, dengan kisaran pergerakan semester II antara 6.390 hingga 7.470. Investor disarankan memperhatikan tiga hal mendasar: tujuan investasi, horizon waktu, dan profil risiko. Rotasi sektoral, kata Nico, juga bisa dimanfaatkan sebagai strategi di tengah dinamika pasar saat ini.
Pertanyaannya sekarang: apakah 37 emiten yang baru masuk daftar HSC akan bergerak lebih cepat dari pendahulu mereka? Kalau melihat rekam jejak sembilan saham sejak April-Mei 2026, jawabannya belum tentu menggembirakan.