KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BEI dan OJK Ingatkan 32 Juta Investor: Jangan FOMO...

Finansial

BEI dan OJK Ingatkan 32 Juta Investor: Jangan FOMO, Waspadai Deepfake

Di tengah lonjakan investor pasar modal yang kini menembus 31 juta orang, literasi keuangan justru masih mengkhawatirkan. OJK mencatat indeks literasi pasar modal baru 17,78 persen.

Capital Market Structure

Jumlah investor pasar modal Indonesia menembus 31,14 juta orang per September 2026. Impresif di atas kertas. Tapi OJK punya catatan yang bikin kening berkerut: indeks literasi pasar modal baru 17,78 persen, sementara indeks inklusinya cuma 1,34 persen.

Kesenjangan itulah yang jadi latar belakang kegiatan Ring the Bell for Financial Literacy 2026, digelar Bursa Efek Indonesia bersama OJK di Jakarta, Rabu (14/10). Tema tahun ini, "Stay Smart. Stay Alert. Stay Resilient.", bukan sekadar jargon. Ketiganya adalah tiga pesan konkret yang disampaikan Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno.

Edi membuka dengan argumen yang agaknya perlu didengar lebih banyak orang: kemudahan membuka rekening lewat aplikasi tidak otomatis berarti investor paham risiko yang mereka ambil. "Pertumbuhan jumlah investor harus diikuti dengan peningkatan kualitas pemahaman investor terhadap keuangan atau tingkat literasi keuangan yang tinggi. Kemudahan membuka rekening investasi dan melakukan transaksi melalui aplikasi belum tentu diikuti dengan kemampuan memahami risiko," katanya. Beli saham, dalam pandangan Edi, sejatinya adalah membeli kepemilikan perusahaan. Konsekuensinya, investor perlu memahami bisnis, kondisi keuangan, hingga prospek emiten yang dikoleksinya.

Soal FOMO, Edi tegas. "Jangan mengambil keputusan hanya karena suatu perusahaan sedang ramai dibicarakan di media sosial, karena mengikuti rekomendasi orang lain, atau karena takut tertinggal dari tren investasi atau FOMO ya," ujarnya. Kalimat yang mudah diucapkan, tapi realitanya bisa jadi berbeda ketika grup WhatsApp investasi sudah penuh dengan "ini saham mau ngebang" jam dua pagi.

Ancaman digital jadi pesan kedua yang tak kalah krusial. Teknologi deepfake kini mampu menghasilkan video atau suara yang menyerupai tokoh publik maupun profesional keuangan untuk merekomendasikan investasi palsu. Modusnya pun beragam: pencatutan identitas lembaga keuangan resmi sampai iming-iming imbal hasil tinggi tanpa risiko. Prinsip yang disarankan Edi sederhana tapi kritis, yaitu legal dan logis. Kalau tawaran investasi terasa terlalu menarik, itu justru sinyal bahaya. Ia juga mengingatkan agar investor tidak sembarangan menyerahkan data pribadi, PIN, atau kata sandi kepada pihak mana pun.

Tiga langkah praktis ia tawarkan: periksa informasi sebelum percaya, pahami produk sebelum masuk, dan pastikan tujuan transfer sebelum uang berpindah tangan. Sederhana. Tapi kalau benar-benar dijalankan, cukup untuk menutup celah yang sering dieksploitasi penipu.

Pesan ketiga menyentuh dimensi yang paling sering diabaikan dalam diskusi investasi: pengelolaan emosi saat pasar bergejolak. "Investor yang tangguh bukanlah investor yang tidak pernah mengalami kerugian, melainkan investor yang mampu memahami risiko, menjaga disiplin, dan mengambil keputusan secara rasional," kata Edi. Diversifikasi, dana darurat, dan kesesuaian instrumen dengan profil risiko adalah fondasi yang ia rekomendasikan, bukan sebagai mantra, tapi sebagai pelindung nyata ketika pasar tiba-tiba amblas.

Kegiatan ini bagian dari World Investor Week, kampanye global tahunan yang diinisiasi International Organization of Securities Commissions (IOSCO). BEI menegaskan komitmennya memperluas literasi keuangan demi ekosistem pasar modal yang inklusif dan tepercaya.

Pertanyaannya tinggal satu: dari 31 juta investor itu, berapa yang benar-benar membaca pesan ini?