SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BEI: 4 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Kuas...

Finansial

BEI: 4 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Kuasai Pipeline

Bursa Efek Indonesia mencatat 4 perusahaan masih mengantre untuk IPO per 17 Juli 2026, dengan sektor kesehatan mendominasi separuh pipeline. Di sisi obligasi, penghimpunan dana sudah tembus Rp103,86 triliun.

Banyak perusahaan menunda rencana initial public offering (IPO) di Indonesia karena kondisi pasar belum sesuai harapan, menurut BEI. Meski demikian, lembaga itu tetap menargetkan 50 emiten baru pada

Empat perusahaan masih berderet dalam antrean pencatatan saham perdana Bursa Efek Indonesia per 17 Juli 2026. Tipis, memang. Tapi bukan berarti mesin IPO mati total.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin merinci komposisinya: dua perusahaan masuk kategori aset skala besar dengan nilai di atas Rp250 miliar, dua sisanya berskala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar. Pola yang familiar bagi siapa saja yang rutin memantau pipeline BEI beberapa tahun terakhir.

Sektoral kali ini menarik. Kesehatan atau healthcare menyumbang dua dari empat kandidat, alias tepat 50% dari total pipeline. Dua emiten lain berasal dari sektor basic materials dan consumer non-cyclicals. Bukan kebetulan kalau kesehatan kembali jadi primadona karena sektor ini konsisten menarik minat investor institusi sejak pascapandemi, valuasinya pun masih dianggap wajar oleh sebagian analis.

Sepanjang 2026, sudah tujuh perusahaan yang berhasil melantai di BEI dengan total dana yang diraup mencapai Rp2,16 triliun. Angka yang tidak fenomenal, tapi cukup untuk membuktikan pasar modal masih bernapas.

Yang justru mencolok ada di sisi obligasi. Pipeline Efek Beragun Utang dan Sukuk (EBUS) sudah membukukan 114 emisi dari 62 penerbit dengan total penghimpunan dana menembus Rp103,86 triliun hingga pertengahan Juli ini. Masih ada 11 emisi dari 9 penerbit yang mengantre. Sektor energi memimpin dengan 5 perusahaan atau 45,5% dari total pipeline obligasi, diikuti sektor finansial dan infrastruktur masing-masing 18,2%, lalu basic materials dan consumer non-cyclicals masing-masing 9,1%.

Selisih antara pasar saham dan obligasi ini, jujur saja, bukan sinyal yang bisa diabaikan. Korporasi agaknya lebih nyaman menarik utang ketimbang melepas ekuitas ke publik saat ini, entah karena valuasi yang dianggap belum ideal atau karena proses penerbitan obligasi yang lebih cepat dan fleksibel. Pertanyaannya, sampai kapan preferensi ini bertahan?

Di lini rights issue, 15 perusahaan sudah mengeksekusi haknya dengan total nilai Rp10,69 triliun. Tersisa satu perusahaan dari sektor properti dan real estate yang masih dalam antrean.

Bagi investor ritel yang berharap ada gelombang IPO menarik di paruh kedua 2026, dua kandidat dari sektor kesehatan itu layak masuk watchlist. Pilihan memang tidak banyak, kalau data ini bisa jadi patokan.