JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BBTN Cetak Laba Rp2,4 Triliun di 1H26, Likuiditas...

Finansial

BBTN Cetak Laba Rp2,4 Triliun di 1H26, Likuiditas Jadi Ujian Berikutnya

Laba bersih PT Bank Tabungan Negara Tbk melesat 41% YoY di paruh pertama 2026, jauh melampaui konsensus. Namun tekanan likuiditas di semester kedua jadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

BTN Siap-siap Kembalikan Sebagian Dana SAL Rp 38 T ke Pemerintah, September Ini

Laba bersih PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) di paruh pertama 2026 mencapai Rp2,4 triliun, naik 41% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka itu setara 62% dari estimasi konsensus untuk full-year 2026F, jauh di atas pola historis 1H25 yang hanya merealisasikan 49% dari target tahunan. Pasar merespons: saham BBTN ditutup naik 4,13% pada Jumat (17/7), meski kenaikan itu juga tertopang penguatan sektor keuangan secara umum.

Pendorong utamanya bukan ekspansi pendapatan. Yang bekerja keras justru penurunan beban provisi. Cost of Credit (CoC) tergerus ke 0,7% di 1H26 dari 2% setahun sebelumnya, sudah berada di bawah guidance manajemen yang mematok kisaran 1-1,2% untuk akhir tahun. NPL gross ikut turun ke 2,99% per Juni 2026 dari 3,3% di Juni 2025. Manajemen memperkirakan NPL akan landai ke kisaran 2,8-2,9% pada Desember nanti.

Secara kuartalan, 2Q26 membukukan laba bersih Rp1,3 triliun, melonjak 61% YoY dan 17% QoQ. Level tertinggi setidaknya sejak 1Q19. Angka yang tidak bisa dianggap enteng.

Tapi ada satu bagian yang perlu dibaca lebih teliti. PPOP justru amblas 23% YoY selama 1H26, tertekan oleh penurunan pendapatan bunga sebesar 12% YoY. Bukan karena bisnis melambat, melainkan high-base effect dari penyesuaian akuntansi di segmen KPR non-subsidi, tepatnya perubahan perhitungan effective interest income. Kalau faktor itu dikeluarkan, pendapatan bunga sebetulnya masih tumbuh 9% YoY. Penting untuk dipahami agar tidak salah baca headline angkanya.

Kredit tumbuh 11% YoY per Juni 2026, melampaui guidance manajemen di kisaran 8-10%. Sebagian didorong akuisisi portofolio kredit pensiunan dari Bank SMBC Indonesia (BTPN), yang transaksinya baru rampung di akhir Juni sehingga kontribusinya terhadap pendapatan bunga belum akan terasa sampai semester depan. Manajemen juga sudah menyebut rencana akuisisi portofolio kredit konsumer dari bank swasta asing lain pada 2027.

Nah, di sinilah cerita masuk ke babak yang lebih kompleks.

Dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang ditempatkan di BTN kini mencapai sekitar Rp38,3 triliun, setara 9% dari total Dana Pihak Ketiga perseroan. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memastikan bahwa sebagian dana tersebut harus dikembalikan ke pemerintah pada September 2026. "Iya nanti September ada porsi yang harus dikembalikan. Nah sekarang kan bagusnya schedulenya sudah clear," ujar Nixon saat ditemui di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Kepastian jadwal itu, setidaknya, memberi ruang untuk mempersiapkan likuiditas lebih terstruktur.

Nixon juga tidak menyembunyikan betapa rumitnya dinamika likuiditas yang sempat terjadi. Penarikan dana SAL di akhir Juni lalu bertabrakan dengan kenaikan BI rate, lonjakan imbal hasil SRBI, dan penerbitan instrumen serap likuiditas lainnya. Perbankan pun terpaksa berebut dana di pasar. "Karena kalau semua bersamaan nyedot, sudah pasti bank kalah. SRBI nyedot dan sebagainya, SBN juga keluar, bank pasti kalah, terus bank harus kembalikan duit juga," jelasnya gamblang. Situasi itu yang ia sebut sebagai "crossing." Pemerintah kemudian mengembalikan dan menambah penempatan SAL sekitar Rp100 triliun ke Himbara, dengan BTN mendapat tambahan sekitar Rp13 triliun sehingga posisi akhirnya menjadi Rp38,3 triliun.

Manajemen BBTN tidak berpura-pura 2H26 akan semulus paruh pertama. Cost of Fund yang sudah turun ke 3% di 1H26, dari 4,1% setahun lalu, diperkirakan akan merayap naik ke kisaran 3,1-3,3% di akhir tahun seiring ketatnya likuiditas. SRBI beredar per Juni 2026 sudah menyentuh level tertinggi sejak instrumen itu diluncurkan. Belum ada tanda-tanda surut.

Apakah kenaikan CoF ini akan menggerus profitabilitas? Agaknya tidak serta-merta. Manajemen berencana mengimbanginya dengan memperlambat pertumbuhan kredit di 2H26 sekaligus menggeser fokus ke segmen dengan yield lebih tinggi. Kualitas aset pun secara struktural masih dalam tren perbaikan: day past due credit vintage 24 bulan sudah turun ke 5,5% dari 8,7% setahun lalu. Nixon juga berharap pemerintah lebih cermat memilih timing penarikan SAL berikutnya agar tidak kembali terjadi perebutan likuiditas yang tidak perlu.

Seluruh guidance 2026 tetap dipertahankan. Pertanyaannya sekarang, apakah manajemen betul-betul percaya diri, atau sekadar menjaga ekspektasi pasar tetap terkendali menjelang semester yang lebih berat. Entah kebetulan atau tidak, keduanya bisa terlihat persis sama dari luar.