MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BBRI dan BBCA Sokong IHSG Sepekan, tapi Sinyal Mas...

Finansial

BBRI dan BBCA Sokong IHSG Sepekan, tapi Sinyal Masih Campur Aduk

IHSG menguat 0,83% sepanjang pekan 6-10 Juli 2026 ke level 5.924,36, mengakhiri dua pekan koreksi berturut-turut. Saham perbankan besar jadi motor utama, meski sinyal teknikal masih campuran.

Saham BBRI-BBCA Cs Jadi Motor Penguatan IHSG Sepekan. (Foto: Magnific)

Dua pekan merah berturut-turut akhirnya tersudahi. IHSG menutup perdagangan periode 6-10 Juli 2026 dengan kenaikan 0,83% ke level 5.924,36, ditopang penguatan di hari terakhir sebesar 0,20%. Bukan rally yang menggelegar, tapi cukup untuk mengangkat kapitalisasi pasar bursa ke Rp10.340 triliun, naik tipis 0,51% dari Rp10.287 triliun pekan sebelumnya.

Motor utamanya datang dari deretan saham perbankan berkapitalisasi raksasa. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memimpin kontribusi dengan kenaikan 2,95% ke Rp2.790 per saham, menyumbang 11,71 poin ke indeks. Tepat di belakangnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,07% ke Rp6.175 dan memberikan 11,05 poin. Dua saham ini saja sudah menanggung hampir separuh dari penguatan indeks.

Bukan hanya big bank yang ikut pesta. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) melonjak 4,78% ke Rp198.850 dengan kontribusi 9,25 poin. PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) bahkan melesat 11,11%, menambahkan 8,77 poin. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menguat 9,09%, berkontribusi 7,84 poin. PT Bank Jago Tbk (ARTO) jadi yang paling atraktif secara persentase, lonjakan 23,37% dalam sepekan. Masif. Meski kontribusinya ke indeks hanya 1,84 poin karena bobotnya yang masih relatif kecil.

Dari sisi aktivitas perdagangan, frekuensi transaksi harian melonjak 29,69% menjadi 1,87 juta kali, dan volume harian ikut bertambah 16,83% menjadi 20,49 miliar saham. Herditya Wicaksana dari PT MNC Sekuritas mencatat kenaikan IHSG sepekan ini disertai munculnya volume pembelian, sebuah sinyal yang agaknya lebih melegakan ketimbang kenaikan tanpa konfirmasi volume.

Ada catatan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Investor asing justru membukukan aksi jual bersih Rp1,73 triliun sepanjang pekan. Sektor infrastruktur juga tidak ikut menghijau, malah terkoreksi 2,11% sendirian saat mayoritas sektor lain menguat.

Sentimen yang bekerja pekan ini pun bukan sepenuhnya positif. Herditya menyebut setidaknya tiga faktor penekan: peringatan S&P Dow Jones Indices soal status pasar Indonesia yang memicu kecemasan investor, pelemahan rupiah yang masih bertengger di kisaran Rp18.100 per dolar AS, serta rata-rata nilai transaksi harian yang turun 8,88% menjadi Rp10,27 triliun dari Rp11,27 triliun pekan lalu. Naik volume, turun nilai. Bisa jadi transaksi pekan ini didominasi saham-saham lapis bawah yang harganya lebih murah.

Dari luar negeri, harga minyak terpantau di kisaran US$71 per barel sementara emas melandai di US$4.106 per troy ounce. International Energy Agency bahkan memproyeksikan permintaan minyak global bisa turun untuk pertama kalinya sejak 2020, seiring gangguan produksi di kawasan Timur Tengah yang mulai mereda.

Satu data domestik yang layak disimak: penjualan mobil Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 12% secara tahunan menjadi 77.550 unit, melanjutkan tren positif setelah naik 14% di bulan Mei. Secara kumulatif, semester I-2026 mencatatkan 436.564 unit atau tumbuh 15,9% dibanding periode sama tahun lalu. Angka-angka ini memberi petunjuk bahwa daya beli segmen menengah belum sepenuhnya amblas, kalau data ini bisa dipercaya, meski tekanan rupiah terus berjalan.

Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways di kisaran 5.800-6.000 pada pekan depan. Secara teknikal, indeks sudah di atas MA-5 dan MA-10, tapi masih terjepit di bawah MA-20. Stochastic RSI membentuk death cross, sementara MACD masih bertahan di area positif. Sinyal yang saling bertolak, dan entah kebetulan atau tidak, persis mencerminkan kondisi fundamentalnya juga.