Harga minyak mentah Brent sudah menembus US$102,23 per barel. Selat Hormuz, jalur migas krusial yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar dunia, kini dalam bayang-bayang blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Pekan ketujuh konflik AS-Israel versus Iran. Belum ada tanda-tanda beres.
Di Jakarta, harga Pertamax tetap Rp12.300 per liter. Pertalite masih Rp10.000.
Entah ini keberanian fiskal atau kalkulasi politik, pemerintah memilih menyerap tekanan harga global sepenuhnya lewat APBN. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam rapat bersama Komisi XI DPR pada 6 April lalu, secara tegas menjamin tidak ada kenaikan BBM bersubsidi sampai akhir tahun, bahkan dengan asumsi harga minyak rata-rata US$100 per barel sepanjang 2026.
Pernyataan itu disambut riuh tepuk tangan. Jempol dilayangkan para anggota dewan, bak respons suporter, bukan legislatif.
"Jadi masyarakat di luar enggak usah ribut, enggak usah takut, kita sudah hitung," tegas Purbaya. Ia juga membantah keras narasi yang beredar bahwa anggaran subsidi energi hanya tahan dua bulan atau habis di bulan Juli. Klaimnya: dengan anggaran yang ada sekarang pun, pemerintah masih kuat mengcover tekanan fiskal sampai Desember.
Klaim yang masih perlu dibuktikan, terutama kalau harga minyak tidak turun dari level sekarang.
Asumsi makro APBN 2026 dipatok di US$70 per barel. Harga Brent sekarang sudah lebih dari 45% di atas angka itu. Selisihnya bukan angka main-main. Setiap tambahan US$1 per barel langsung menghantam beban subsidi dan kompensasi yang harus ditanggung negara, dan para pengamat mengingatkan bahwa kalau eskalasi di Timur Tengah terus merayap naik, tekanan itu tidak akan berhenti di sini.
Ironisnya, kebijakan menahan harga BBM ini punya efek samping yang lumayan positif ke pasar keuangan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut keputusan pemerintah itu bisa menjadi penopang kurs rupiah, dengan meredam tekanan inflasi dari sisi energi.
"Pemerintah tidak naikkan harga BBM ini positif jaga rupiah ke depannya," kata Destry dalam Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia, Senin (13/4/2026).
Tapi ia juga meluruskan bahwa pelemahan rupiah saat ini bukan semata soal domestik. Rupiah dibuka di Rp17.100 per dolar AS pada awal pekan ini, terdepresiasi sekitar 1,91% secara year-to-date. Bukan Indonesia sendirian, kata Destry. Lebih banyak ditarik oleh penguatan indeks dolar (DXY) yang pada pagi itu menguat 0,37% ke level 99,010, seiring investor kembali memburu aset aman setelah kebuntuan negosiasi Washington-Teheran memasuki babak panjang tanpa kejelasan.
Di SPBU, situasinya memang tenang. Pertamax Series dan Pertamina Dex Series kompak belum bergerak sejak awal Maret 2026. SPBU swasta pun senada: Shell Super bertahan di Rp12.390 per liter, BP Ultimate Rp12.920 per liter, Revvo 95 milik Vivo terparkir di Rp12.930 per liter.
Stabil di permukaan. Di bawahnya, tekanan fiskal terus menumpuk.
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan APBN bisa jadi bumper, kalau minyak tidak mau turun dan Hormuz belum juga selesai?