Ledakan tambang di Shanxi yang menewaskan 82 orang pekan lalu ternyata menyulut lebih dari sekadar duka. Harga batu bara global langsung merespons: ditutup di US$139,4 per ton pada perdagangan Selasa (26/5/2026), naik 2,16% dalam sehari dan menjadi level penutupan tertinggi sejak 5 Mei.
Insiden di tambang swasta Liushenyu itu memicu penghentian operasi 109 tambang di Shanxi dengan kapasitas produksi gabungan 122 juta ton per tahun. Bukan angka kecil. Pasar memperkirakan sekitar 4% dari total produksi batu bara kokas nasional China terganggu seketika. Penghentian biasanya berlangsung tiga hingga tujuh hari, tapi pelaku pasar kini khawatir cakupannya meluas, apalagi China akan memulai kampanye keselamatan pertambangan tahunan pada 1 Juni.
"Melihat kebutuhan menjaga pasokan batu bara menjelang musim panas, pemerintah pusat sejauh ini belum memperketat pengawasan keselamatan kerja lebih lanjut," kata Yu Dian, peneliti utama di Citic Futures Shanghai. Kalau pengetatan tidak meluas, produksi bisa cepat pulih setelah inspeksi awal rampung, dan tekanan harga kemungkinan mereda. Tapi itu skenario optimistis.
Untuk saat ini, pasar bergerak ke arah sebaliknya. Kontrak berjangka batu bara kokas bulan terdekat sempat melonjak hampir 8% hanya dalam satu sesi. Kontrak bulan berikutnya menyentuh batas kenaikan harian. Harga kokas di China pun resmi naik untuk keempat kalinya tahun ini, berlaku mulai 26 Mei dengan besaran CNY 50-55 per ton. Pasar sudah ramai membicarakan potensi kenaikan putaran kelima, klaim yang patut dicermati mengingat sejumlah pabrik baja mulai menolak kenaikan lanjutan karena margin mereka tertekan akibat harga produk baja yang melemah.
Musim panas menjadi akselerator tersendiri. CITIC Securities mencatat konsumsi batu bara oleh pembangkit listrik tenaga uap dan sektor kimia sudah melampaui ekspektasi musim panas tahun ini. Stok yang sedang dikuras di musim sepi bisa berubah menjadi permintaan restocking masif kapan saja. Ibarat pedang bermata dua: suplai menyusut di satu ujung, permintaan menumpuk di ujung lain.
Dari India, situasinya lebih mendesak. Permintaan listrik puncak negara itu mencetak rekor 270,8 gigawatt pekan lalu, dihajar gelombang panas ekstrem akibat pola cuaca El Nino. Sejumlah wilayah mengalami pemadaman, khususnya malam hari ketika pasokan energi terbarukan tidak tersedia. India sudah punya kapasitas energi non-fosil 228 GW, namun batu bara masih menyumbang lebih dari 70% pembangkitan listrik nasional. Angka yang sulit disembunyikan.
Sebanyak 21 pembangkit listrik tercatat memiliki stok batu bara kritis, hanya cukup untuk kurang dari seminggu, berdasarkan data Central Electricity Authority. Coal India, produsen batu bara terbesar di dunia yang menyumbang sekitar 80% produksi domestik, langsung menginstruksikan anak-anak usahanya memaksimalkan pengiriman lewat seluruh moda transportasi, termasuk jalur kereta langsung dari tambang ke pembangkit. Masalahnya, Coal India sendiri mencatat penurunan produksi 9,7% menjadi 56,1 juta ton metrik pada April. Bak gayung bersambut yang salah waktunya.
Gabungan antara suplai yang menyusut di China dan permintaan yang meledak di India agaknya cukup untuk menahan harga di atas level psikologis US$130 per ton dalam waktu dekat. Kontrak Newcastle terpantau stabil di kisaran US$132 sepanjang sesi, dengan tren satu bulan terakhir menguat antara 2% hingga 5,87% tergantung kontrak acuan yang dipakai. Angka ini juga 31% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu, dan masih jauh di bawah rekor all-time US$457,8 per ton yang tercetak September 2022.
Pertanyaannya tinggal satu: seberapa lama inspeksi tambang di Shanxi berlangsung, dan apakah Beijing punya cukup keberanian untuk memperketat keselamatan saat negeri itu sedang butuh-butuhnya energi.