Sepanjang dua tahun terakhir, banyak pelaku usaha dan pembuat kebijakan masih menunggu kondisi global "kembali normal". Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas, punya pesan yang agaknya tidak ingin banyak orang dengar: tidak ada normal yang akan kembali.
"Saya ingin mengingatkan, apa yang kita alamin ini bukan sesuatu yang abnormal, ini new normal. Jadi, kita jangan pernah berpikir bahwa ada suatu masa yang lebih baik dari sekarang, sekarang ini adalah base kita dan ini hidup yang harus kita jalani dan kita hadapi," ujar Febrian dalam acara Peluncuran Dashboard Potensi Ekspor Indonesia di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat sepanjang 2026, dengan konflik di Timur Tengah dan eskalasi ketegangan geopolitik sebagai penekan utama. Fragmentasi perdagangan yang menguat, kebangkitan kebijakan industri di negara-negara besar, serta gelombang proteksionisme yang makin terang-terangan kini membentuk peta dagang yang jauh berbeda dari dua dekade sebelumnya.
Amerika Serikat sudah aktif memangkas ketergantungannya pada China, sambil merajut perjanjian dagang baru dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Kamboja. Ini bukan sekadar perang dagang biasa. Restrukturisasi rantai pasok global semacam ini bisa memakan waktu bertahun-tahun, dan bagi Indonesia itu berarti rebutan peluang sekaligus risiko kalau terlambat bergerak.
Ada satu variabel yang kerap luput dari diskusi kebijakan di sini: dekarbonisasi. Agenda hijau yang didorong negara-negara maju kini berubah fungsi menjadi hambatan ekspor non-tarif. Biaya produksi terkerek, daya saing negara berkembang tergerus. Bukan main.
Lalu ada AI. Negara yang terlambat mengadopsi kecerdasan buatan, berdasarkan kajian yang disampaikan Bappenas, akan menghadapi penurunan produktivitas relatif dibanding kompetitor yang sudah lebih dulu bergerak. Bagi emiten-emiten padat karya yang belum punya roadmap digitalisasi jelas, tekanan margin dari negara-negara tetangga yang lebih sigap bisa datang lebih cepat dari perkiraan. Entah kebetulan atau tidak, ini persis pola yang sudah lebih dulu dirasakan sektor tekstil.
Febrian memilih berdiri di sisi optimistis. Ia mengutip adagium lama soal silver lining di balik setiap awan gelap, "there is always a silver lining in every cloud," katanya, dan mendorong Indonesia untuk melihat pergeseran global ini sebagai momentum transformasi berbasis pengetahuan. Setidaknya itu yang ia sampaikan ke audiens pagi itu.
Kalimat itu terdengar menyemangati. Tapi pertanyaan yang lebih keras adalah: seberapa siap ekosistem industri dan kebijakan domestik kita untuk benar-benar memanfaatkan celah yang terbuka, sebelum Thailand dan Vietnam lebih dulu mengisinya?