Dua ratus juta lebih. Itu jumlah penduduk Muslim Indonesia, dan ironisnya, tingkat inklusi keuangan syariah di negara ini masih terbilang rendah dibanding perbankan konvensional. Bagi pelaku industri, angka itu bukan masalah, oh, tunggu, bukan em dash: bagi pelaku industri, angka itu bukan masalah, itu peluang yang belum banyak tersentuh.
Presiden Direktur PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), Koko Tjatur Rachmadi, menyebut momentum pertumbuhan sektor ini kian solid, didorong dua hal sekaligus: dukungan pemerintah lewat Masterplan Ekonomi Syariah, dan pergeseran selera masyarakat yang makin condong ke produk halal serta layanan berbasis syariah.
Bukan tren sesaat.
Memang, kalau bicara potensi, narasi ini sudah sering terdengar, hampir klise malah. Tapi yang membedakan sekarang adalah ekosistemnya yang mulai matang. Digitalisasi perbankan syariah membuka akses ke segmen yang sebelumnya sulit dijangkau kantor cabang fisik, terutama di luar Jawa, di mana ceruk pasarnya justru masif dan nyaris belum digarap serius.
BANK sendiri menyatakan komitmen untuk terus menggarap segmen ritel, UMKM, dan korporasi secara bersamaan. Strategi tiga front sekaligus, yang agaknya mencerminkan ambisi untuk tidak terjebak di satu lini. Kolaborasi ekosistem digital juga masuk daftar prioritas, seiring upaya membenahi infrastruktur teknologi dan tata kelola internal.
Pertanyaannya, seberapa cepat eksekusi bisa mengimbangi besarnya ekspektasi? Pasar syariah Indonesia sudah terlalu lama disebut "raksasa yang tertidur." Koko dan timnya kini punya kesempatan membuktikan bahwa kali ini ceritanya benar-benar lain.