Rp2,1 miliar. Angka itu yang dibukukan Bandarlampung Expo 2026 dari total transaksi selama sepekan penyelenggaraannya, 17 hingga 24 Juli 2026, di Kota Bandarlampung, melampaui target yang sudah dipatok sebelumnya. Bukan angka kecil untuk pameran daerah.
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan menyebut capaian ini sebagai bukti bahwa expo tak lagi bisa dilabeli sekadar seremonial tahunan. "Pencapaian tersebut menunjukkan Bandarlampung Expo bukan lagi sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan telah berkembang menjadi instrumen yang efektif untuk memperluas akses pasar," kata Marindo.
Sebanyak 41 stan instansi pemerintah dan 50 tenant UMKM ambil bagian dalam gelaran ini. Keberagaman produk yang dipajang, dari karya pelaku usaha lokal hingga produk ekonomi kreatif lintas daerah, mencerminkan daya saing UMKM Lampung yang terus menanjak. Marindo juga meminta agar seluruh aktivitas transaksi di expo tahun ini tercatat secara tertib, terukur, dan transparan, sebagai pijakan perencanaan tahun berikutnya.
Tapi yang agaknya paling mencuri perhatian publik justru bukan soal angka. Di stan Pemerintah Kota Bandar Lampung, inovasi digital bernama Program Seribu Wajah berhasil membuat Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Komjen Pol. Tomsi Tohir, berhenti cukup lama untuk menyimak demonstrasinya. Kepincut, boleh dibilang.
Program berbasis teknologi face recognition ini dikembangkan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandar Lampung sebagai sistem identifikasi digital untuk mempercepat layanan publik. Kepala Diskominfotik Rizky Agung Ariesantho memaparkan bahwa lewat teknologi pengenalan wajah, identitas warga bisa diverifikasi secara cepat, aman, dan terintegrasi lintas perangkat daerah. "Program Seribu Wajah menjadi salah satu langkah strategis Pemkot Bandar Lampung dalam mempercepat transformasi digital menuju konsep smart city," jelasnya.
Didampingi Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, Tomsi meninjau langsung demonstrasi sistem itu sebelum melanjutkan kunjungan ke stan lain. Ia turut mengapresiasi pertumbuhan UMKM dan ekonomi kota, sekaligus menyebut HUT ke-344 Kota Bandar Lampung sebagai momentum memperkuat investasi dan menekan angka pengangguran. "Harapannya HUT ke-344 menjadi momentum semakin memperkuat komitmen seluruh pihak dalam mendorong investasi, menekan angka pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Di luar gemerlapnya inovasi digital, expo ini juga jadi ajang panen bagi sektor layanan publik konvensional. Program diskon pemasangan baru PDAM Way Rilau yang dibuka di arena expo disambut antrean warga, puluhan orang langsung mendaftar di lokasi. Bukan respons yang bisa diabaikan.
Tiga sektor, perdagangan, pariwisata, dan ekonomi kreatif, ditempatkan Marindo sebagai poros pertumbuhan yang saling menopang. Lewat kolaborasi dengan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, expo ini sekaligus menjadi etalase promosi destinasi wisata, seni budaya, desa wisata, hingga kuliner khas Lampung kepada calon investor. Bukan cita-cita kecil: Lampung, kata Marindo, punya kekayaan budaya yang layak melangkah ke panggung internasional, kalau data kunjungan dan transaksi ini bisa dijadikan argumen yang konsisten.
Pertanyaannya, apakah momentum Rp2,1 miliar ini bisa direplikasi dan ditingkatkan tahun depan, atau sekadar jadi angka kebanggaan sesaat di laporan akhir tahun?