RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Bali Diusulkan Jadi Pusat Keuangan Khusus, Prabowo...

Ekonomi

Bali Diusulkan Jadi Pusat Keuangan Khusus, Prabowo: Indonesia Paling Diminati

Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pembangunan pusat keuangan khusus di Bali, sebuah ide lama Luhut Binsar Pandjaitan yang kini menemukan momentumnya di tengah gejolak geopolitik global.

Ide itu sudah lama ada di laci. Kini, dengan dunia yang semakin tidak karuan, Luhut Binsar Pandjaitan agaknya bisa bilang: waktunya tepat.

Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pembangunan special financial center di Indonesia dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026). Bali jadi lokasi yang diusulkan. Gagasan ini datang dari Luhut, yang kini menjabat Ketua Dewan Energi Nasional, dan rupanya sudah digodok bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapat panggung.

"Rencana kita, kita mau bikin special financial center, kita lagi cari tempat. Pak Luhut sarankan di Bali, nggak tau pak Luhut seneng banget di Bali itu, ya kita semua senang di Bali," kata Prabowo, setengah berkelakar tapi serius.

Serius karena konteksnya memang bukan main. Konflik di Timur Tengah yang terus membara, perang Rusia-Ukraina yang belum juga padam, ditambah tensi geopolitik yang memaksa pemilik modal besar memutar otak soal satu hal: uang mereka harus diparkir di mana? Indonesia, klaim Prabowo, masuk daftar pendek.

Bukan isapan jempol.

"Gagasan ini yang disampaikan pak Luhut ke saya bertahun-tahun ini, ternyata sekarang uang yang di Timur Tengah dia mau ke mana? Negara mana yang nggak perang? Kasih tahu. Indonesia salah satu yang paling diminati," jelas Prabowo.

Soal keamanan Bali sebagai lokasi, Prabowo menyodorkan argumen yang bisa jadi di luar dugaan. Ia menunjuk pada fakta bahwa wisatawan asal Rusia dan Ukraina tetap ramai berlibur di Pulau Dewata, meski negara mereka saling menembakkan rudal. "Kalau terjadi perang dunia ke tiga, negara mana yang aman? Indonesia termasuk papan atas loh. Sekarang kau ke Bali kau lihat berapa orang Rusia di situ, orang Ukraina di situ," pungkasnya.

Bali, dalam kacamata itu, praktis sudah berfungsi sebagai zona netral informal. Tempat orang-orang dari wilayah konflik menaruh punggung mereka tanpa perlu celingukan.

Pertanyaannya tentu bukan cuma soal lokasi. Pusat keuangan sekelas yang dimaksud, kalau benar ingin menarik dana jumbo dari Timur Tengah atau bahkan menyaingi Singapura dan Dubai, butuh lebih dari suasana tropis yang nyaman. Infrastruktur regulasi, insentif fiskal yang kompetitif, kepastian hukum bagi investor asing. Pekerjaan rumahnya menumpuk.

Detail teknis proyek ini belum diungkap. Skema pendanaan, kerangka regulasi, semuanya masih gelap. Tapi momentumnya, kalau data ini bisa dipercaya, datang di saat yang sulit diabaikan.