SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Bahlil Kebut Uji Coba CNG 3 Kg, Jawaban atas 80% I...

Bisnis

Bahlil Kebut Uji Coba CNG 3 Kg, Jawaban atas 80% Impor LPG

Pemerintah masuk tahap ketiga uji coba CNG untuk tabung 3 kilogram rumah tangga. Di baliknya ada masalah struktural: Indonesia mengimpor 75-80 persen kebutuhan LPG nasionalnya setiap tahun.

Pemerintah pacu penggunaan CNG untuk kurangi impor LPG - ANTARA News Gorontalo

Tujuh puluh lima hingga delapan puluh persen. Itu angka impor LPG Indonesia dari total konsumsi nasional yang tembus lebih dari 8,5 juta metrik ton per tahun, sedangkan produksi domestik hanya sanggup menyumbang 1,91 juta MT. Kesenjangan 7,47 juta MT itulah yang kini jadi bahan bakar kebijakan energi paling serius dari Kementerian ESDM.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah mempercepat adopsi Compressed Natural Gas sebagai substitusi LPG, dengan fokus terbaru pada segmen rumah tangga. Uji coba tabung CNG berukuran 3 kilogram bersama Pertamina sudah masuk tahap ketiga, ditargetkan rampung antara Juli hingga Agustus tahun ini.

"LPG ini tidak ada cara lain untuk kita mengurangi devisa keluar dan mengurangi subsidi. Harus ada bauran energi," tegas Bahlil di Jakarta, Kamis. CNG, ia tambahkan, menggunakan komponen C1 dan C2 yang cadangannya melimpah di dalam negeri.

Untuk segmen komersial, CNG bukan barang baru. Tabung 12 dan 50 kilogram sudah mengisi dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis, hotel, restoran, dan industri lainnya. Yang belum tersentuh adalah segmen massal: rumah tangga dengan tabung melon 3 kilogram, segmen yang selama ini paling berat menyedot subsidi dan devisa negara. Paling berat. Paling lama dibiarkan.

Bahlil juga menyinggung akar masalahnya. Konversi minyak tanah ke LPG yang digulirkan sejak 2006 ia nilai sebagai kebijakan berniat mulia, tapi belum siap. Pemerintah kala itu mendorong adopsi LPG tanpa membangun industri hilir domestik yang memadai, sehingga justru mencetak ketergantungan impor yang struktural dan makin dalam tiap tahunnya. Ibarat memindahkan beban, bukan mengangkatnya.

Kalau uji coba CNG 3 kilogram berhasil melewati fase komersialisasi, imbasnya bisa lumayan buat neraca perdagangan migas Indonesia yang selama ini kompak defisit. Pertanyaannya, seberapa cepat transisi ini bisa jalan di lapangan? Infrastruktur, kebiasaan konsumen, rantai distribusi, semuanya belum tentu siap serempak. Bagi investor yang melirik emiten infrastruktur gas dan distribusi energi domestik, cerita ini layak dicermati, kalau data awal uji coba ini bisa dipercaya.