MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Australia Naikkan Upah Minimum 4,75%, Tiga Juta Pe...

Ekonomi

Australia Naikkan Upah Minimum 4,75%, Tiga Juta Pekerja Kantongi Gaji Lebih Tebal per Juli

Fair Work Commission menetapkan upah minimum mingguan naik menjadi A$1.004,90 atau sekitar Rp12,8 juta, berlaku 1 Juli 2026, menjangkau sekitar 3 juta pekerja bergaji rendah di Australia.

Australia Naikan Upah Minimum Ikuti Inflasi, Jadi Rp 12 Juta Seminggu

Tiga juta pekerja bergaji rendah di Australia akan mengantongi upah lebih tebal mulai 1 Juli, setelah Fair Work Commission (FWC) resmi memutuskan kenaikan upah minimum nasional sebesar 4,75 persen, angka yang dirancang pas untuk menutupi proyeksi inflasi, tapi tidak cukup memuaskan serikat buruh yang menuntut lebih.

Dengan kenaikan itu, upah minimum mingguan naik menjadi A$1.004,90 atau sekitar Rp12,8 juta (asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS), sementara per jamnya menjadi A$26,44. Bukan angka kecil bagi yang menerimanya. Tapi bagi serikat pekerja yang sejak awal menuntut kenaikan 5 hingga 6 persen, keputusan ini agaknya terasa seperti setengah langkah.

FWC tidak berpura-pura ini kabar gembira tanpa syarat. Dalam pernyataan resminya, komisi mengakui, dengan nada yang terasa berat, bahwa kondisi ekonomi saat ini tidak memungkinkan pemberian kenaikan upah riil yang lebih tinggi. "Dengan mempertimbangkan semua hal ini, kami menyimpulkan, dengan penuh penyesalan, bahwa tidak praktis atau bertanggung jawab dalam kondisi penuh ketidakpastian saat ini untuk memberikan kenaikan upah riil bagi para pekerja," bunyi pernyataan itu.

Ketidakpastian yang dimaksud bukan sekadar retorika. Inflasi konsumen Australia tercatat 4,1 persen pada kuartal pertama 2026 dan diperkirakan melonjak ke 4,8 persen pada kuartal kedua, jauh di atas target kisaran 2 hingga 3 persen yang ditetapkan Reserve Bank of Australia (RBA). Tekanan harga energi yang dipicu gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran menambah beban yang sudah berat.

RBA sendiri telah menaikkan suku bunga tiga kali sepanjang tahun ini ke level 4,35 persen, membalik arah dari kebijakan pelonggaran yang dilakukan pada 2025. Dampaknya mulai dirasakan di mana-mana: belanja rumah tangga April melorot, harga properti mulai melandai, angka pengangguran perlahan merangkak naik. Singkatnya, perekonomian Australia sedang mendingin.

Posisi FWC pun tidak mudah. Naikkan upah terlalu tinggi, tekanan inflasi bisa kian liar. Naikkan terlalu rendah, daya beli pekerja tergerus. Komisi memilih jalan tengah, menetapkan kenaikan yang setidaknya memastikan pekerja tidak lebih miskin secara riil dibanding posisi mereka per 1 Juli 2025. "Kami juga perlu mengambil langkah tambahan untuk melindungi posisi pekerja dengan upah paling rendah," tambah FWC dalam pernyataan yang sama.

Soal kemungkinan RBA kembali mengerek suku bunga dalam waktu dekat, pasar tampaknya skeptis. Data pasar swap hanya memperkirakan peluang 6 persen untuk kenaikan keempat pada Juli mendatang. Total pengetatan yang diantisipasi sepanjang tahun ini pun cuma sekitar 21 basis poin, kurang dari satu kali kenaikan penuh.

Kenaikan upah 4,75 persen ini, setidaknya memberi sinyal bahwa otoritas Australia berusaha menjaga lapisan bawah tetap di atas permukaan. Apakah itu cukup di tengah badai inflasi dan suku bunga tinggi yang masih jauh dari mereda, bisa jadi pertanyaan yang jawabannya baru terlihat di penghujung tahun.