JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Asing Serbu Saham Bank, BBCA hingga BBRI Ditutup P...

Finansial

Asing Serbu Saham Bank, BBCA hingga BBRI Ditutup Perkasa Akhir Pekan

Investor asing tercatat net foreign buy Rp39,90 miliar pada sesi I perdagangan Jumat, dengan saham perbankan besar menjadi incaran utama. BBCA, BBRI, dan BMRI kompak ditutup menguat lebih dari 3%.

Investor Asing Lagi Senang Belanja Saham BBCA hingga BBRI

Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar kompak menutup pekan ini di zona hijau, didorong akumulasi investor asing yang kembali masuk ke pasar modal Indonesia pada perdagangan Jumat (17/7/2026).

Berdasarkan data riset CGS International Sekuritas, investor asing membukukan pembelian 1,36 miliar saham senilai Rp2,66 triliun di sesi pertama, sementara penjualan tercatat Rp2,62 triliun. Net foreign buy terbentuk senilai Rp39,90 miliar, meski secara volume asing masih mencatatkan jual bersih 842,99 juta saham. Angka yang patut dicermati. Asing melepas saham-saham murah dalam jumlah besar, tapi sekaligus memborong saham-saham mahal berkapitalisasi jumbo.

BBCA jadi incaran paling sengit, dengan net buy asing mencapai 58 juta saham di sesi pertama. Disusul BBRI sebanyak 55,95 juta saham dan BMRI 45,16 juta saham. Hasilnya terlihat di penutupan: BBCA menguat 4,02% ke Rp6.475, BBRI naik 3,85% ke Rp2.970, BMRI melesat 3,94% ke Rp4.480. BBTN bahkan menjadi bintang hari ini dengan kenaikan 4,13% ke Rp1.260, sementara BBNI menanjak 2,29% ke Rp3.580.

Perkan ini tidak sepenuhnya mulus. Pada Selasa (14/7/2026), sejumlah saham bank jumbo dihajar aksi ambil untung: BBRI terkoreksi 2,44%, BMRI melemah 2,12%, BBCA turun 1,61%. Tekanan itu, agaknya, hanya bersifat sementara.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai reli ini lebih soal sentimen ketimbang katalis fundamental spesifik dari emiten perbankan. "Adanya net foreign buy di pasar saham menjadi sinyal bahwa investor asing kembali melakukan akumulasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk sektor perbankan," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (17/7/2026). Ia menambahkan, membaiknya sejumlah data ekonomi Amerika Serikat memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan The Fed tidak akan jauh lebih ketat dari perkiraan sebelumnya, sehingga mendongkrak minat investor terhadap aset berisiko di pasar berkembang, Indonesia termasuk.

Di luar bank, asing juga menambah posisi di TLKM sebanyak 34,12 juta saham dan COCO 11,06 juta saham. Tekanan jual terbesar sebaliknya jatuh pada BUMI dengan net sell 144,84 juta saham, disusul DEWA 83,39 juta saham dan TPIA 74,90 juta saham. Pola rotasi ini cukup terang: keluar dari saham-saham spekulatif dan komoditas, masuk ke sektor yang menawarkan imbal hasil lebih stabil.

Fundamental perbankan, kata Nafan, tetap jadi penopang minat jangka menengah. Kualitas aset terjaga, kredit masih tumbuh, valuasi kompetitif dibanding regional. "Jadi, sejauh ini kenaikan saham perbankan lebih mencerminkan perbaikan sentimen pasar dan aksi beli investor, bukan karena adanya satu pengumuman atau informasi material tertentu dari sektor perbankan," tuturnya. Pertanyaannya sekarang: apakah momentum ini cukup kuat untuk bertahan melewati pekan depan?