SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Asing Net Sell Rp1,11 T di Sesi I, IHSG Bertahan T...

Ekonomi

Asing Net Sell Rp1,11 T di Sesi I, IHSG Bertahan Tipis di Tengah Kepungan Merah Asia

IHSG kembali tertekan pada perdagangan Kamis 9 April 2026, dibuka melemah hingga 0,89% di tengah aksi jual asing yang belum mereda dan seluruh bursa Asia yang kompak merah.

Tekanan itu belum juga reda.

IHSG dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 9 April 2026, terpangkas 64,45 poin atau 0,89% ke 7.214,76 di awal sesi. Indeks LQ45 ikut terseret, turun 9,72 poin atau 1,32% ke 723,91. Memasuki pertengahan hari, koreksi sedikit terkikis: IHSG parkir di 7.268,03, tergerus 11,18 poin (0,15%). Tapi tekanan jual asing? Tidak ke mana-mana.

Sampai sesi I berakhir, asing membukukan net sell Rp1,11 triliun. Nilai pembelian hanya menyentuh Rp2,45 triliun, sementara penjualan menembus Rp3,56 triliun. Dari sisi volume, angkanya lebih mengkhawatirkan: beli asing 2,55 miliar saham, jual asing 3,98 miliar saham. Porsi asing dalam total transaksi volume pasar cuma 21,38 persen.

Bukan angka kecil.

Dua hari sebelumnya, net sell asing sudah menyentuh Rp2,4 triliun. Pada Selasa 7 April, IHSG sempat terkulai ke 6.971,03 sebelum perlahan membaik. Ini bukan kejadian satu malam, ralat, bukan insiden semalam saja. Ini tren yang sedang berjalan, dan belum ada sinyal berbalik.

Investor lokal justru jadi penopang, entah kebetulan atau tidak. Porsi domestik mencapai 65,93% dari total transaksi, dengan nilai beli Rp6,37 triliun dan jual Rp5,27 triliun. Total nilai transaksi pasar tetap bertahan di Rp8,84 triliun dengan frekuensi 1,33 juta kali, likuiditas tidak lantas kolaps meski asing sedang dalam mode kabur.

Eh, tunggu. Ada em dash di dua kalimat tadi yang perlu diperbaiki.

Investor lokal justru jadi penopang, entah kebetulan atau tidak. Porsi domestik mencapai 65,93% dari total transaksi, dengan nilai beli Rp6,37 triliun dan jual Rp5,27 triliun. Total nilai transaksi pasar tetap bertahan di Rp8,84 triliun dengan frekuensi 1,33 juta kali. Likuiditas tidak lantas kolaps meski asing sedang dalam mode kabur.

Sentimen regional memperburuk suasana. Seluruh bursa Asia kompak merah pagi itu. Nikkei 225 tergerus 0,55% ke 56.001, Hang Seng turun 0,61% ke 25.735, Shanghai Composite melemah 0,56% ke 3.972, dan Straits Times terkoreksi 0,30% ke 4.981. Rupiah pun ikut dihajar, melemah 39 poin ke Rp17.051 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.

Meski begitu, tidak semua saham ditinggalkan. Agaknya asing masih pilih-pilih. ESSA memimpin daftar net foreign buy sesi I dengan 19,89 juta saham, disusul BUKA sebesar 16,68 juta saham dan NSSS 14,12 juta saham. KAQI, COAL, dan TAPG juga masuk radar akumulasi dengan masing-masing 13,08 juta, 12,31 juta, dan 7,77 juta saham.

Di sektor ritel dan konsumsi, MAPI dan ERAA masing-masing dibeli 6,70 juta dan 5,42 juta saham. Sektor media digital pun sempat dilirik: EMTK mencatat net buy 5,83 juta saham, SCMA 3,82 juta saham. Properti ikut masuk daftar, LPKR dan LAPD dengan 5,72 juta dan 4,68 juta saham.

Selektif. Satu kata yang cukup meringkas perilaku asing hari ini.

Dari sisi broker, Stockbit Sekuritas Digital (XL) mencatat nilai transaksi tertinggi sebesar Rp2,47 triliun, diikuti UBS Sekuritas Indonesia (AK) dengan Rp2,39 triliun dan Mandiri Sekuritas (CC) Rp1,61 triliun. Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) masing-masing berkontribusi sekitar Rp1,1 triliun dan Rp1,05 triliun.

Pertanyaannya belum terjawab: sampai kapan asing terus keluar, sebelum valuasi akhirnya terasa cukup murah untuk bikin mereka balik badan?