Libur panjang Kenaikan Isa Almasih tidak memberi napas bagi IHSG. Bursa kembali dibuka Senin (18/5/2026) dan langsung kena tampar tekanan jual, indeks rontok 124,08 poin atau 1,85% ke level 6.599, melanjutkan serial koreksi empat hari berturut-turut dari pekan sebelumnya.
Secara kumulatif, IHSG sudah amblas 5,2% dalam sepekan perdagangan terakhir. Bukan angka kecil. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: rebalancing MSCI yang memaksa penyesuaian portofolio institusional besar-besaran, plus rupiah yang terus tergerus. Rabu (13/5) lalu, sebelum pasar libur, IHSG sudah lebih dulu rontok 1,98% atau 135,57 poin ke level 6.723,32.
Sepanjang Senin, investor asing mencatat net sell Rp463,99 miliar di seluruh pasar, dengan pasar reguler menyumbang Rp460,34 miliar dari angka tersebut. Jauh lebih moderat dibanding sesi terakhir pekan lalu, ketika net sell asing di pasar reguler sempat menembus 1,10 miliar lembar saham. Kemarin angkanya menyusut ke 81,29 juta lembar. Volume perdagangan justru meledak: foreign buy naik dari 4,46 miliar ke 6,43 miliar lembar, foreign sell naik dari 5,57 miliar ke 6,52 miliar lembar.
Saham yang paling babak belur: PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Asing melepas bersih 99,13 juta lembar sepanjang hari, mendorong harga sahamnya amblas hampir 10% ke Rp3.160 per saham. Di sesi pertama, aksi jual asing di ANTM mencapai Rp62,69 miliar dengan frekuensi transaksi hampir 58 ribu kali. Total, net sell asing di ANTM tembus Rp315,02 miliar, menjadikannya saham dengan tekanan jual asing paling masif hari itu.
Bank-bank besar tidak luput. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing di sesi pertama dengan nilai Rp273,55 miliar, sahamnya anjlok 2,88% ke Rp3.030. BMRI menyusul dengan net sell Rp139,76 miliar, terkoreksi 2,14% ke Rp4.110. Lebih dalam lagi, AMMN amblas 14,86% ke Rp3.150, seiring aksi jual asing Rp123,67 miliar di sesi pertama.
Satu nama anomali di sektor yang sama: BBCA. Asing justru masuk, mencatat net buy Rp107,16 miliar, dan harganya menguat 0,41% ke Rp6.125. Ada rotasi selektif yang sedang berlangsung di sektor perbankan, kalau data ini bisa dipercaya.
Di luar perbankan, GOTO memimpin top buy versi volume dengan 240,63 juta lembar net buy. MBMA dan DMAS juga jadi sasaran akumulasi asing. Di sisi jual, selain ANTM, BNBR dan CUAN masing-masing kena net sell mendekati 90 juta dan 83,81 juta lembar.
Rp9,17 triliun. Angka yang tidak main-main, dan itu justru mengalir masuk ke pasar Indonesia dari asing selama akumulasi sepekan penuh sebelum libur. Sebagian besar terkonsentrasi di MAPI dengan angka fantastis Rp11,95 triliun, jauh melampaui emiten lain. BBRI, TLKM, dan INKP melengkapi daftar nama yang dikoleksi asing sebelum pasar tutup.
Arah perdagangan jangka pendek masih kabur. Sentimen rebalancing MSCI bisa jadi sudah terdiskon sebagian, tapi tekanan rupiah dan ketidakpastian global belum kemana-mana. Pertanyaannya sederhana: akumulasi besar asing pekan lalu itu strategi masuk murah, atau sekadar merebalance portofolio sebelum mereka balik kanan lagi?