MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Asing Net Sell Dua Hari Beruntun: ADRO Diburu, ANT...

Bisnis

Asing Net Sell Dua Hari Beruntun: ADRO Diburu, ANTM dan Bank Pelat Merah Dilepas

Investor asing membukukan net sell selama dua sesi berturut-turut di BEI, dengan volume penjualan bersih meningkat dari 791 juta lembar menjadi 1,10 miliar lembar pada Rabu (13/5). ADRO sempat jadi primadona pada sesi sebelumnya, sementara ANTM dan BMRI menanggung tekanan jual terbesar.

Daftar 10 Saham Paling Diburu Asing Jelang Pengumuman MSCI: Ada ADRO, TLKM, BRPT hingga MAPI

Dua hari. Dua sesi beruntun.

Investor asing meninggalkan lebih banyak saham daripada yang mereka beli di Bursa Efek Indonesia, dan tekanannya malah membesar di hari kedua.

Selasa (12/5), net sell asing tercatat Rp931,89 miliar secara nilai, dengan volume penjualan bersih 791,41 juta lembar. Rabu (13/5), volume itu melonjak ke 1,10 miliar lembar. Foreign buy menyusut dari 4,55 miliar menjadi 4,46 miliar lembar, sementara foreign sell naik dari 5,34 miliar ke 5,57 miliar lembar. Arahnya jelas.

Konteks yang perlu dibaca bersamaan: sepekan sebelumnya, 4-8 Mei 2026, asing justru mencatat net buy Rp12,26 triliun, membalik net sell Rp7,06 triliun di pekan sebelumnya. Tapi secara year to date, pasar Indonesia masih dihajar net sell asing sekitar Rp38 triliun. Aksi beli pekan lalu itu, agaknya, lebih bersifat taktis daripada perubahan arah yang sesungguhnya.

Sentimen pengumuman MSCI pada 12 Mei ikut mewarnai suasana. Evaluasi MSCI kerap memengaruhi aliran dana dari investor institusional global yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan portofolio. Wajar kalau pergerakan asing terasa lebih selektif dan sedikit nervous menjelang momen itu.

Pada sesi Selasa, ADRO jadi rebutan. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk membukukan net buy asing Rp95,13 miliar, harga ditutup di 2.600, naik 6,12%. Menyusul PT Timah Tbk (TINS) dengan net buy Rp48,27 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp43,54 miliar, dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) Rp41,85 miliar.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) layak dapat sorotan tersendiri. Net buy asing "hanya" Rp34,55 miliar, tapi harganya melesat hampir 15% dalam sehari. Bukan angka kecil untuk saham petrokimia yang belakangan lebih sering sepi. PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) juga diburu dengan net buy Rp33,54 miliar, seiring harga yang terkerek 7,80%.

Di sisi jual, ANTM kena tampar paling keras. PT Aneka Tambang Tbk menanggung net sell asing Rp217,76 miliar, padahal harga sudah terkoreksi 3,51% ke 3.570. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyusul dengan net sell Rp181,74 miliar, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp174,11 miliar, amblas 8,25% dalam sehari. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga masuk daftar merah, meski nilainya lebih moderat.

Rabu (13/5), wajah pemain berubah total. PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) menduduki posisi net buy terbesar versi volume dengan 102,22 juta lembar, jauh dari nama-nama big caps yang biasa mendominasi. PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) dan PT Aviana Sinar Abadi Tbk (IRSX) menyusul, keduanya dengan volume di bawah 30 juta lembar.

Kecil. Ini bukan rotasi besar.

Ini lebih seperti asing bermain di saham lapis dua yang likuiditasnya jauh lebih tipis, bak gayung bersambut dengan momentum harga yang memang sedang bergerak. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?

Di sisi jual Rabu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) jadi yang terbesar dengan net sell 150,32 juta lembar. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masing-masing menanggung net sell di atas 115 juta lembar. BBRI kembali masuk daftar jual dengan net sell 87,06 juta lembar. Entah kebetulan atau tidak, dua hari berturut-turut bank pelat merah ini dilepas asing.

Rp38 triliun net sell year to date. Angka yang tidak main-main.

Gambaran dua hari ini mempertegas postur asing yang masih defensif di pasar Indonesia. Sesekali mereka mengoleksi saham pilihan saat valuasi dianggap menarik, tapi kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal jangka panjang, kepercayaan investor global terhadap pasar domestik belum pulih sepenuhnya. Setidaknya, begitu yang terbaca dari angka.