Sepanjang pekan 25-29 Mei 2026, investor asing melepas saham-saham Indonesia dengan nilai bersih Rp 12,43 triliun. Angka yang cukup untuk bikin pelaku pasar berhenti sejenak dan bertanya: ada apa sebenarnya?
Saham yang paling banyak dilepas adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dengan net sell mingguan Rp 2,5 triliun. Dari sesi I perdagangan Jumat (29/5) saja, asing sudah melepas TPIA senilai Rp 948,5 miliar dengan volume 479,3 juta saham. Yang ironis, aksi jual itu terjadi justru saat harga TPIA menguat tipis 1,05% ke Rp 1.920 per saham. Sinyal klasik: harga naik sedikit, asing langsung pakai momentum untuk keluar. Secara year to date, TPIA sudah amblas 72,5%. Dalam sebulan terakhir sahamnya tergerus 65,4%, penurunan yang bikin nyangkut dalam skala besar bagi siapa pun yang masuk di harga atas.
Posisi kedua ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell mingguan Rp 2,3 triliun. Khusus sesi I Jumat, asing melepas BBCA senilai Rp 594,6 miliar, volume 102,5 juta saham. Berbeda dengan TPIA, tekanan jual di BBCA langsung terasa di harga. Saham bank terbesar secara kapitalisasi ini melemah 2,51% ke Rp 5.825 pada hari yang sama, memperpanjang koreksi ytd yang sudah menyentuh 27,8%. Rp 2 triliun. Segitu nilai net sell PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) selama sepekan, menempatkannya di urutan ketiga.
Agaknya yang paling membingungkan: IHSG justru tidak ambruk dramatis. Indeks ditutup melemah tipis 0,05% ke 6.127,38 pada Jumat, secara mingguan terkoreksi 0,56% dari level 6.162,045. Bukan ARB massal, tapi juga bukan rebound yang meyakinkan. Pasar bergerak sideways, tersandera tekanan jual asing yang deras.
Satu data yang patut dicermati: rata-rata nilai transaksi harian BEI selama sepekan ini justru melonjak 30,37% menjadi Rp 28,38 triliun, naik dari Rp 21,77 triliun pekan sebelumnya. Artinya ada yang menyerap. Siapa? Besar kemungkinan investor domestik, baik ritel maupun institusi lokal, yang entah kebetulan atau tidak, agresif melakukan pembelian saat eksodus asing berlangsung. Kapitalisasi pasar BEI bahkan terkerek 0,88% menjadi Rp 10.729 triliun, meski frekuensi transaksi harian amblas 10,87% dan volume menyusut 15,6%.
Betapa parahnya tekanan sepanjang tahun ini tergambar dari satu angka: akumulasi net sell asing selama 2026 kini menembus Rp 53,97 triliun. Bukan angka kecil. Ini mencerminkan redistribusi kepemilikan saham dari tangan asing ke domestik dalam skala yang belum banyak terlihat beberapa tahun terakhir.
BEI sendiri memilih momen yang cukup kontras untuk menggelar Strategic Leadership Dialogue bersama OJK dan Ikatan Akuntan Indonesia, membahas implementasi standar pengungkapan keberlanjutan berbasis IFRS S1 dan IFRS S2. Relevan untuk jangka panjang, setidaknya itu klaim para pemangku kepentingan di forum tersebut. Tapi bagi sebagian investor hari ini, agenda ESG bisa jadi terasa kurang mendesak dibanding pertanyaan yang jauh lebih sederhana: kapan asing berhenti jual?